Sabtu, 06 Juli 2013

Banyak Hal Yang Kita Jumpai Saat mendaki Gunung








Banyak hal yang akan kita jumpai saat kita mendaki puncak gunung. Seperti saat kami mendaki puncak Gunung Slamet. Di perjalanan naik kami, kami berpapasan dengan mahasiswa dari Jerman, yang sedang kuliah di UGM. Dia mendaki seorang diri, dan baru pertama kali naik gunung Slamet. Alasan dia mendaki ingin membuktikan bahwa tulisan tentang jarak pendakian ke gunung Slamet itu benar atau salah. Memang banyak sekali tulisan entah dari blog pribadi bertebaran dimana-mana, yang menuliskan proses lamanya pendakian ke gunung Slamet. Ternyata setelah dia cerita, mendaki gunung Slamet jauh berbeda dengan apa yang ia baca. Lamannya waktu dan medan yang berat. (niat amat tuh bule…..)


Saat perjalanan mendaki, juga saya temui seorang ayah yang mengajak anaknya laki-laki umur enam tahun untuk mendaki. Mereka merupakan salah satu rombongan dari Jakarta. Dari basecamp sebelum saya naik, saya melihat anak tersebut berjalan dengan digandeng sama ayahnya. Lalu kami bertemu lagi diperjanalan menuju pos 2, terlihat anaknya itu sudah tidur kelelahan dipangkuan sang ayahnya. Tak tahu apakah mereka melanjutkan perjalanan ataukah turun lagi ke basecamp.  (duh ayah yang gaul tapi….kok ya gak kasihan sama anaknya tho yah…..)

Hal lucu lainnya saat perjalanan ada serombongan orang yang sudah nyampe ke pos  7 harus turun lagi ke pos lima dikarenakan pos tujuh penuh tak ada tempat untuk mendirikan tenda. Padahal di pos lima juga sudah penuh tenda…tak tahu mereka jadinya mendirikan tenda dimana akhirnya…..(kalau jadi aku…ngapain harus turun lagi, sudah capek2 naik, kok turun, padahal mau ke puncak….kalu tidur yang tinggal tidur saja seperti kami….yang tidur beralaskan matras dan beratapkan bintang-bintang langit…dan kami memutuskan untuk tidur di pos enam, yang kecil…)
Kelucuan juga terjadi di puncak…banyak orang-orang mendaki dengan atribut yang unik..terlihat ada yang memakai serangam lengkap seorang polisi militer, lalu ada yang memakai toga. Ada juga orang yang melakukan ritual, membakar dupa sambil berdoa. Dan hampir semuanya pada narsis sendiri-sendiri foto-foto.

Hal yang menurut aku kurang tepat adalah melihat orang yang memasak di puncak gunung.  Dipuncak gunung itu kita diberi kesempatan untuk menikmati, memandang , dan mensyukuri karunia ciptaan sang Pencipta, serta bersyukur dapat sampai kepuncak dengan selamat. Kenapa kita harus menyibukan diri dengan memasak? Selain itu akibat kita memasak, tentu banyak sisa kotaran walaupun kecil yang akan tertinggal. Seperti sisa tisu, tumpahan air susu, tumpahan minyak walaupun sedikt tentu akan membekas di tanah. Lagian di puncak gunung orang juga tak akan berlama-lama, mengingat asam belerang yang terus membumbung dikeluarkan oleh kawah gunung Slamet. Ingat ya sudah menjadi tradisi serta cerita dari simbah-simbah kita dulu bahwa puncak gunung itu adalah tempat yang suci. Jadi jangan sekali-kali kita mengotori atau meninggalakn sampah di gunung, apalagi di puncak gunung,
-sigal-

Tidak ada komentar:

Total Tayangan Halaman

Persembahan Hati