Minggu, 04 Desember 2011

Kuatir, cemas dan ketidak berdayaanku

Photobucket

Ada sebuah kata-kata indah, "serahkanlah semua kekuatiran hidupmu, biarkanlah Dia bekerja bagimu." Sebuah kata-kata yang sangat membangun. Menyerahkan segala kekuatiran? Bukanlah sebuah hal yang mudah. Apa benar segala kekuatiran akan terhapuskan?

Sebuah badai yang datang ketika kita tak lagi berada di rumah. Sebuah contoh nyata bagiku. Bagaimana aku kuatir akan kondisi rumahku, bagaimana aku cemas memikirkan orang-orang yang aku tinggal? Aku begitu kuatir karena tahun yang lalu atap rumahku porak poranda diterjang angin puting beliung.
Kini ketika angin ribut kembali menyapa kota tercinta aku tak lagi berada di rumah. Hanya doa yang bisa aku panjatkan di sepanjang perjalanan.

Sore itupun aku masuk ke dalam rumahMU. Awalnya ketika aku berdoa, aku hanya liat diluar menyaksikan pepohonan diombang-ambingkan oleh sapuan angin. Aku mencoba konsentrasi berdoa lagi, namun pikiran orang-orang di rumah selalu membayangiku. Aku coba terus, sampai akhirnya ku lelah. Dalam kelelahanku, akupun hanya bisa berpasrah. Dengan keterbatasanku, dengan ketidak mampuanku, aku hanya bisa berserah diri. Lewat doa sajalah yang bisa aku panjatkan waktu itu, "Terjadilah padaku menurut kehendakMu."

"Maafkan aku Tuhan, walaupun aku begitu dekat dan sangat dekat bahkan di dalam RumahMu, namun aku masih saja kuatir. Bagaimana jika aku berada jauh dariMu?"

Percaya itu mudah diucapkan ketika sesuatu berada dalam keadaan bahagia dan senang, namun susah diucapkan ketika mengalami hal-hal yang kurang mengenakan.
Kini aku mengerti bahwa dengan kepasrahan dan menyerahkan segalanya. Percayalah Dia akan bertindak dengan caranya sendiri. Cara yang tentunya terbaik bagi anak-anakNya.

Sekitar pukul sembilan malam aku pulang dan melihat kondisi rumah dalam keadaan baik, terutama keluargaku. Akupun mengucap syukur...karena Dia benar -benar memberi kelegaan bagiku. Terima kasih Tuhan.
Photobucket

Tidak ada komentar:

Total Tayangan Halaman

Persembahan Hati