ku berjuang sampai akhirnya Kau dapati aku tetap setia

Tuesday, November 29, 2011

Meja yang mempunyai cerita

Increasing Decreasing Table

Meja adalah tempat di mana orang merasakan keakraban.
Di sekitar meja itu, kita saling menemukan dan mengenal.
Meja adalah tempat di mana kita berdoa sebelum menyantap hidangan.
Di situ kita makan, minum bersama dan berkata, "Ayo, tambah sedikit lagi."
Di tempat itu kita bertanya, "Bagaimana keadaanmu hari ini?"
Di tempat itu pula dikisahkan cerita-cerita, baik yang lama maupun yang baru.
Di situ, kita tersenyum dan tertawa.

Meja juga merupakan tempat di mana jarak dirasakan dengan cara yang amat menyakitkan.
Di situ anak-anak merasakan ketegangan yang ada di antara orang tua.
Di situ pula saudara-saudari mengungkapkan rasa marah dan iri mereka.
Tuduhan-tuduhan diucapkan dan tak jarang piring dan cangkir menjadi alat kekerasan.

Di sekitar meja, kita dapat merasakan apakah yang ada rasa persahabatan, kasih sayang ataukah rasa benci dan perpecahan?
Meja adalah tempat di mana keakraban seluruh anggota keluarga dapat dialami.
Meja juga dapat menjadi saksi di mana tidak adanya keakraban yang paling jelas tampak secara amat menyakitkan.

Monday, November 28, 2011

Setetes harapan untuk negeri ini

Blue universe

Negeri yang mayoritas bermata pencaharian sebagai petani, namun sayang kehidupan para petani yang masih kurang sejahtera.

Negeri yang mempunyai hamparan sawah yang luas, namun sayang masih import beras dari luar negeri.

Negeri yang sangat banyak sekali potensi hasil lautnya, namun sayang masih banyak sekali pencurian hasil laut oleh asing.

Negeri yang mempunyai hutan tropis luas, namun sayang lambat laun mulai berkurang.

Negeri yang mempunyai sumber daya mineral yang kaya, namun sayang tak mampu memperkaya masyarakat sekitar.

Negeri yang banyak sekali dilalui sungai dan anak sungai, namun sayang masih dijumpai jembatan rusak, roboh, bahkan sama sekali tak ada jembatannya.

Negeri yang berazaskan Bhineka Tunggal Ika, namun sayang masih saja ada yang tak menghargai perbedaan.

Negeri yang terkenal dengan keramah tamahannya, namun sayang masih sering dijumpai tawuran, perkelahian, pengerusakan dan pembunuhan.

Negeri yang terkenal dengan antriannya. Dari antrian sembako, isi bensin, bantuan sosial, tiket sampai antrian gadget. Namun sayang kebanyakan berakhir rusuh.

Negeri yang terkenal dengan pasar-pasar tradisionalnya, namun sayang mulai menjamurnya swalayan-swalayan swasta membuat pasar tradisional mulai tergusur.

Apapun yang terjadi di negeri ini tetaplah Indonesia Raya. Tetaplah menjadi negara kesatuan republik Indonesia.
Masih ada setetes harapan dari aku, kamu, dan kita semua untuk membangun negeri tercinta ini.
Photobucket

Friday, November 25, 2011

Belajar dari gumpalan awan

cloud

Melihat awan mengingatkanku bahwa hidup itu selalu berubah. Bahwa setiap hari selalu ada hal baru yang selalu dijumpai. Tak ada bentuk awan yang selalu sama setiap hari. Setiap saat awan berubah menurut angin yang menghembuskannya. Berubah menurut kandungan uap air yang tersimpan di dalamnya.

Kadang awan terlihat putih bersih, kadang pula terlihat kelam, atau terlihat warna abu-abu. Kadang terlihat bergumpal-gumpal besar seperti kawanan domba, namun kadang tergores tipis menghiasi langit biru.

Melihat sekumpulan awan di angkasa terkadang membuat manusia yang memandangnya menerka-nerka. Wah, sebentar lagi mau turun hujan. Aduh pasti akan ada badai di hari ini. Ah langit sungguh cerah tak ada awan yang menutupi, pasti hari ini tak turun hujan.

Sering pula orang membuat imajinasi tentang bentuk awan. Wah awannya kayak bentuk wajah orang ya, atau sering orang mengatakan itu awan seperti bentuk hewan.

Entah apa jadinya jika langit tak ada awan. Hanya warna biru yang membentang. Hanya ada panas yang menyengat, tak ada awan yang mentupi sang surya, untuk sekedar beteduh bagi makhluk yang ada di bawahnya. Tak ada awan kelabu yang mengantung di angkasa, tak akan ada hujan yang akan jatuh membasahi bumi.

Hidup dapat diibaratkan bak awan. Seringkali hari ini kita tampak ceria, bak awan putih bersih. Namun dikala ada masalah sering kali seperti awan yang kelabu, wajah murung dan bawaannya ingin marah. Tak ayal orang-orang berharap tak menemui kita, mereka buru-buru menjauh dari kita.

Hari ini kita dapat menjadi tempat yang teduh bagi sesama. Namun dilain hari kita menjadi orang yang membutuhkan tempat untuk mencurahkan isi hati, beban persoalan kepada sahabat kita. Seperti awan kelam yang mencurahkan hujan kepada permukaan tanah. Setelah semua dicurahkan berharap akan menjadi awan yang putih. Beban persoalan terasa menjadi ringan.

Terkadang hari ini orang-orang memandang kita sombong, namun orang lain memandang kita biasa-biasa saja. Tak perlu menyalahkan mereka, tak perlu jengkel dan mencaci maki, karena mereka berhak menilai atas diri kita. Ingatlah setiap orang mempunyai penilaian yang berbeda-beda. Seperti orang yang mempunyai imajinasi beraneka macam ketika melihat gumpalan awan. Justru semuanya itu kita jadikan sarana instropeksi diri, untuk selalu melihat diri kita sebelum kita menilai orang lain.

Sambil mendengarkan lantunan lagu Negeri Di Awan, sudahkah kita menjadi awan-awan kecil bagi sesama kita? Awan walaupun kecil selalu punya arti penting dalam kehidupan ini. Mari kita belajar dari awan yang selalu menemani kita setiap hari.
Photobucket

Tuesday, November 22, 2011

Surat dari Asa

Putus Asa

Selamat pagi sahabat...
Ku harap pagi ini kau terus ada bersamaku. Setiap hari aku selalu menemanimu.
Entah apa jadinya jika engkau tak bersamaku.
Memang ketika matamu terlelap tuk sementara, engkau meninggalkanku.
Namun aku yakin, dalam hatimu engkau akan mengatakan dan berharap semoga ada hari esok buatmu. Sebelum tidur mungkin juga engkau mengutarakan asa, semoga aku mimpi indah malam ini.
Aku sendiri juga tak tau...yang jelas selalu ada aku kemanapun kamu berada. Bahkan ketika kamu menutup mata selama-lamanya...aku pasti selalu menemanimu. Menemani, menuntun, bahwa ada asa untuk kehidupan yang baru.
Entah apa jadinya jika tak ada aku, sesudah kematian.
Aduh pagi-pagi kenapa sudah membicarakan hal-hal yang berat...? Maafkan memang aku si Asa, yang tak ingin hari ini semakin banyak lagi orang yang putus asa.

Hari ini semoga tak ada yang putus asa. Semua selalu ada hal yang terbaik, pasti semua ada jalan keluarnya. Menyerah, nglokro, tak ada gairah...? Nampaknya harus dibuang jauh-jauh. Jangan biarkan perasaan itu hinggap dan merasuki mu lebih dalam lagi. Walaupun hidupmu terasa berat hari demi hari. Doamu serasa tak didengar. Namun ingatlah selalu, Tuhanmu itu tak mungkin memberi ular berbisa pada orang yang lagi minta roti. Tuhanmu pasti memberikan sesuatu tepat pada waktunya. Ujian yang sekarang kamu hadapi, badai kehidupan dan persoalan yang lagi kamu jalani tak bermaksud untuk menjatuhkanmu. Semuanya bermaksud untuk menguatkanmu. Bagaikan sayap rajawali, hembusan badai merupakan latihan bagi sayapnya untuk menjadi kuat dan untuk terus terbang tinggi dan semakin tinggi.

Jika saat ini asamu telah mengecil, mengecil dan hampir padam. Jangan biarkan itu terus berlangsung. Jangan biarkan itu meredup. Ada setitik asa di dalam dirimu, yang mampu untuk membangkitkan asamu untuk bangkit dan terus bangkit. Ingatlah hidup yang kamu jalani di dunia ini, kamu tak pernah sendiri. Ada keluarga, sahabat, dan orang-orang sekitar yang mampu untuk membuat kamu tegar kembali. Terlebih Tuhan mu yang akan memampukanmu untuk kembali menegakkanmu.
Aku asa, berharap hari ini engkau tak memutuskan ku. Tetap swemangaat menjalani hari demi hari dan jangan pernah memutuskan asamu.
Photobucket

Sunday, November 20, 2011

Rinai hujan

rain

rinai hujan kembali menyapa

bagaikan dua sahabat yang tlah lama tak bersua

tetesan air nya seakan diterima baik oleh bumi persada

keduanya seakan asyik bercengkerama

daun dan rantingpun senang dengan kehadirannya

tetes demi tetes seakan menyembuhkan rasa dahaga

lamanya bercengkerama membuat halaman menjadi telaga
Photobucket

Saturday, November 19, 2011

Hati yang rapuh

Virtual Drawing,Heart

Setiap orang pasti pernah merasa dikecewakan. Ya...suatu hal yang wajar mengingat kita ini masih punya perasaan dan hati. Namun yang membedakan besar kecilnya sikap hati untuk mampu menerima rasa kecewa yang dialaminya. Rasa kecewa terhadap orang-orang terdekat justru sering hinggap dalam waktu lama, bahkan sulit untuk disembuhkan.

Hati manusia memang terlihat rapuh, disenggol sedikit saja ada yang langsung mutung dan kagol. Tak dipungkiri juga ada yang terlihat kuat, cuek dan tegar dalam menghadapi senggolan dari luar. Namun setegar-tegarnya sifat yang nampak dari luar, selalu ada sisi sensitif dari sebuah hati. Dan yang mengetahui sisi sensitif, bagian yang rapuh adalah diri kita.

Jika dalam diri kita telah mengetahui sisi yang rapuh, sanggupkah kita untuk membuat kuat hari demi hari? Atau kita hanya mendiam kan saja, sampai kerapuhan itu benar-benar rapuh dan sangat rapuh. Kena senggolan sedikit saja, langsung jatuh dan susah tuk bangun kembali.
Photobucket

Jatuh

Lay Your Hands Upon Me Pictures, Images and Photos

Ketika orang lagi "jatuh," seringkali orang yang terjatuh lalu menengadah. Melihat siap yang telah bersedia menolong dan mengulurkan tangan. Membantu berdiri, memapah dan membersihkan luka-lukanya. Berbeda ketika kita lagi tak mengalami musibah. Kita jarang sekali menengadah melihat keatas. Kita cenderung melihat kebawah. Melihat sebentar kebawah siapa yang lagi terjatuh, lalu berlalu begitu saja. Mampir dan melihat sekilas lebih mending, daripada berlalu begitu sambil pura-pura tak lihat.

Maka seringkali ada ungkapan ketika kita jatuh, kita lebih merasakan Tuhan hadir lewat orang-orang yang datang dan menolong kita. Ketika kita jatuh, untaian doa sering kita panjatkan. Pengalaman jatuh menyadarkan bahwa Tuhan begitu dekat dan mengasihi kita. Saat kita jatuh, kita merasakan kuasa Tuhan berkuasa penuh atas diri kita.

Setiap pribadi tentu pernah mengalami peristiwa yang menyakitkan yang membuat orang menjadi jatuh dan tak berdaya. Jatuh memang pengalaman yang pahit, namun dibalik kepahitan tersimpan cerita manis akan kuasaNya bila kita percaya dan berani bangkit berdiri.
Photobucket

Friday, November 18, 2011

Ketika penaku berhenti bercerita

pensil Pictures, Images and Photos

Ketika penaku berhenti bercerita.
Mungkinkah orang akan menjadi bertanya-tanya. Mungkin ia sekarang telah kehabisan ide buat bercerita?
Atau mungkinkah ia mulai malas untuk menuangkan ide cerita?
Atau sekarang ia sudah punya kesibukan lainnya?
Ataukah ia sedang sakit, hingga ia tak mampu mengankat pena lagi?
Atau mungkinkah ia sekarang telah menulis di tempat yang nyaman yaitu di rumah Bapa di surga?

Mungkinkah orang lalu menulis seperti ini :
"Hampir berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun, tak ada cerita lagi yang dapat kubaca dari mu.
Tak tahukah kamu, ceritamu itu sungguh membuatku merasa bahwa hidup itu penuh dengan warna.
Teringat ketika awal mula kamu mulai berbagi cerita.
Kamu menulis cerita tentang kehebohan di pagi hari, tentang sebuah sop dan sambelnya.
Lalu disusul dengan cerita-cerita lainnya.
Kini ketika ceritamu itu berhenti sama sekali, dan tak ada kabar.
Haruskah aku meneteskan air mata untuk mengucapkan kata selamat jalan kawan...?"

Hanya ucapan terima kasih yang dapat ku ucapkan atas perhatian selama ini teman-teman.
Dan akupun berharap akan ada orang lain yang menuliskan cerita ku lagi.
Berharap orang akan bercerita lebih banyak lagi tentang indahnya bintang-bintang di langit, indahnya pelangi dan lucunya sapi.
Photobucket

Kisah sebuah balon gas

balon

Balon gas itupun akhirnya turun juga. Setelah sempat beberap waktu gagah berdiri melayang di angkasa. Melayang kesana kemari, dibawa oleh angin. Tak disadari oleh balon bahwa lambat laun gas yang berada di dalamnya akan berangsur-angsur berkurang, hingga akhirnya habis.

Balon yang terbang melayang ke udarapun sangat senang bisa melihat pemandangan yang indah dari angkasa. Ia bisa melihat puncak gunung yang menjulang tinggi, melihat hamparan sawah, kelap kelip lampu kota, hingga birunya laut. Melihat itu semua, ia pun jadi sombong dan ingin memamerkan apa yang selama ini dilihatnya kepada balon-balon lainnya yang tak bisa terbang tinggi.

Balon-balon lainnya pun terkesima dan ingin diajak oleh balon gas untuk melihat pemandangan dari atas. Namun sia-sia saja, balon gas dengan angkuh dan sombong tak mau menuruti permintaan mereka. Dengan alasan, jika mereka ikut, nanti ia tak dapat terbang dengan tinggi.

Segala sesuatu memang sudah ada masanya. Tepat saja, ketika balon udara hendak berpamitan kepada teman-temannya, balon yang berisi gas tak dapat terbang tinggi. Nampaknya gas yang ada di dalam sudah tak mampu menerbangkannya dengan tinggi. Ancang-ancang sudah dilakukan, yup...dengan susah payah hanya mampu melayang beberapa meter saja. Namun tak berapa lama melayang di udara sudah turun dan jatuh lagi ke tanah. Usaha demi usaha dilakukan, namun sia-sia saja. Balon gas tak mampu terbang tinggi dan melayang-layang lagi di angkasa. Teman-teman lainnya pun pergi meninggalkan balon gas yang sombong tadi. Kini balon gas hanya teronggok sendirian di tanah, tak ada teman yang mau mendekat akibat kesombongannya.

Kala kita mendapat kebahagiaan, alangkah baiknya jika kita membagikan kepada sesama kita.
Kesombongan hanya akan menghancurkan hubungan baik yang selama ini sudah terjalin.
Untuk segala sesuatu hal memang ada masanya, jadi ingat-ingatlah itu teman.
Photobucket

Thursday, November 17, 2011

Rejeki itu memang sudah ada yang mengatur

"Rongsokan-rongsokan, rongsokan né mas...," suara seorang ibu-ibu tua keliling dari pintu rumah satu ke pintu rumah yang lain. Berharap mendapat barang-barang bekas yang mau dijual oleh pemilik rumah. Dengan menenteng karung goni, berjalan tak kunjung lelah, sambil terus berteriak-teriak. Aku berpikir, hampir setiap hari ada saja orang yang berkeliling mencari barang-barang bekas, apa mungkin ibu ini akan mendapat barang-barang bekas di kampung ini? Eits...tunggu dulu, rejeki memang sudah ada yang mengatur setiap hari. Pikiran manusia memang tak mungkin, namun campur tangan Dia tentu sungguh luar biasa. Seperti burung yang setiap hari tak menabur, namun ia selalu menuai, selalu dikenyangkan. Rejeki juga dapat dibayangkan seperti lalu lalang kendaraan umum yang mengangkut penumpang. Dalam satu jalur bus kota tentu terdiri dari puluhan kendaraan yang lewat di jalur yang sama. Namun bisa dilihat setiap kendaraan umum yang lewat selalu ada penumpangnya. Lagi-lagi semua yang berkaitan tentang rejeki sudah ada yang mengatur.

Walaupun rejeki sudah ada yang mengatur, namun lihatlah ada kesamaan dari ketiga peristiwa diatas. Semuanya berusaha, semua beranjak, bergerak, bekerja, mengeluarkan keringat untuk mendapatkan rejeki. Tak ada kata bermalas-malasan berharap ada rejeki yang jatuh tiba-tiba dari langit. Selama masih muda, bergerak, berkarya dan bekerjalah dengan giat. Maka jangan lupa untuk mengawali aktivitas setiap hari dengan berdoa. "Berilah rejeki kami pada hari ini."
Photobucket

Wednesday, November 16, 2011

Kebersamaan kita

best friends Pictures, Images and Photos

Ada canda tawa dalam sebuah kebersamaan.

Ada derai tangis air mata dalam sebuah kebersamaan.

Makan tak makan asal kumpul.

Saling berbagi, saling memberi dan saling menerima.

Saling menguatkan, bukan saling melemahkan.

Tak ada niat untuk menyakiti.

Kritikan, masukan, walaupun terasa berat dan pahit namun harus tetap dikatakan.

Kebersamaan tak pernah berakhir walaupun jarak memisahkan.

Ada hati yang selalu menghubungkan satu sama lain.

Ada hati yang selalu bertaut satu sama lain.

Terima kasih kebersamaan...

Aku begitu banyak belajar darimu...
Photobucket

Hari ini aku sudah menjadi apa bagi sesamaku?

Sun-gif

Hari ini aku sudah menjadi apa bagi sesamaku?

Apakah masih menjadi tumbuhan parasit?
Yang setiap hari selalu bergantung, bergantung dan terus bergantung pada orang lain.
Tak mau usaha sendiri, tak mau inisiatif sendiri, hanya mengandalkan bantuan orang lain. Maunya enak melulu, tanpa bersusah payah.

Menjadi hama bagi sesamaku?
Selalu kerjaannya membuat susah orang lain.
Tak peduli apapun cara dilakukan asal kehidupan, kerjaanya tercukupi. Kehadirannya membuat suasana nyaman yang telah tercipta, berubah menjadi suasana yang tak mengenakkan.

Menjadi hiasan imitasi sesamaku?
Nampak kemilau, ceria ketika sesama lagi senang dan gembira. Ikut bersenang-senang diwaktu bahagia.
Namun menjauh, disaat sesama lagi dirundung duka, lagi mendapat masalah.

Menjadi matahari kecil bagi sesamaku?
Matahari sebagai sumber harapan. Laksana seorang yang memberikan segelas air terhadap orang yang kehausan. Begitupula kehadiran kita, senantiasa membawa harapan bagi sesama, menjadi sumber kegembiraan, menjadi tempat yang nyaman untuk berkeluh kesah. Ada keceriaan, ada suka cita di hari ini, dengan kehadiran kita di tengah orang-orang yang begitu mencintai kita.
Photobucket

Pelajaran hidup di gerbong kereta api#1

Lama sudah tak menginjakan kaki di kampung halaman. Ada guratan rindu akan sebuah kenangan masa kecil. Sambil menatap ke luar jendela kereta api yang terus melaju mengejar waktu. Suasana kereta sungguh ramai, maklumlah naik kereta ekonomi yang murah meriah. Yang penting sampai tujuan dengan selamat itu aja. Ramainya dalam gerbong kereta api ekonomi justru membuat perjalanan panjang serasa tak membosankan. Lalu lalang orang menjajakan berbagai macam jajanan. Mulai dari makanan, minuman, mainan, peralatan rumah tangga, buku, peralatan pertukangan semua ada. Belum lagi orang yang menjual suaranya, mengamen, ataupun orang yang membersihkan seputaran tempat duduk kita dengan menyapu atau menyemprotkan wewangian. Melihat fenomena yang ada di dalam kereta api, pikirku sungguh banyak cara dan usaha manusia untuk bertahan hidup. Untuk bertahan hidup dijaman yang serba susah ini memang dituntut untuk kreatif.

Tiba di stasiun kota kecil, kereta pun berhenti, maklumlah harus menunggu kereta yang lebih eksekutif atau bisnis lewat dulu. Maklumlah seperti di kehidupan nyata rakyat kecil harus mengalah atau menepi dulu ketika pejabat sedang lewat. Ah...suasana panas ketika kereta berhenti. Berharap kereta segera melaju lagi. Namun apalah daya hampir 15 menit kereta tak juga melaju. Hanya kibasan majalah yang di tangan yang bisa mengusir rasa gerah yang melanda.

Tak berapa lama kemudian, terdengar alunan lagu dari anak kecil yang lagi mengamen. Suaranya khas anak kecil banget. Banyak pasangan mata yang memandang pengamen kecil itu. Maklumlah sangat jarang sekali dijumpai pengamen kecil di dalam kereta. Yang ada dan banyak itu orang-orang dewasa yang tak terhitung jumlahnya.

Kereta api mulai melaju dengan pelan, namun pengamen kecil itu juga belum turun dari kereta hingga kereta melaju dengan kencang. Sambil memberi uang, salah satu penumpang bertanya, adik kok tidak turun? Tidak, bu nanti di stasiun selanjutnya.

Lama kereta melaju tanpa henti, kira-kira dua jam lamanya. Lalu aku tersadar, wah jarak yang jauh sekali yang ditempuh oleh anak kecil pengamen tadi. Pergi meninggalkan rumah, untuk mencari rejeki di usia yang masih muda. Tiap hari naik turun gerbong, berpindah dari stasiun satu ke stasiun yang lainnya. Teringat akan kenangan masa silam, ketika aku pergi tanpa pamit. Semua seisi rumah panik. Itupun aku pergi masih di sekitaran daerah asal masih dalam propinsi. Kata orang, hidup itu memang kejam. Tetapi yang kejam itu bukan hidup. Yang membuat kejam justru kita-kita ini, orang-orang yang hanya memikirkan kepentingan diri sendiri.

Entah sudah berapa kali kereta berhenti di stasiun, aku sendiri tak menghitungnya. Kulihat dibalik kaca, anak kecil itu turun dan menghilang dibalik keramaian stasiun. Mungkin juga setelah dari stasiun ini gerbong kereta akan dijumpai lagi sesosok anak-anak kecil tangguh lainnya. Namun dalam hati aku berharap semoga tak ada lagi.
Bersambung...

Thursday, November 10, 2011

Mentari dan tanah

rintik hujan

Akhirnya mentari mulai menampakan batang hidungnya setelah beberapa hari bersembunyi dibalik mendung. "Selamat pagi mentari," sapa sang tanah mengawali perjumpaan di hari ini. "Sudah tiga hari ini tubuhku tak henti-hentinya diguyur oleh hujan, badan ku sudah lembab, tak ada panas dari mu mentari yang menghangatkan tubuhku. Lihatlah semua permukaan tanah masih basah dan dingin." gerutu si tanah. Mentari hanya tersenyum mendengar keluhan tanah, lalu dia berkata, "Hai tanah, lihatlah aku ini, apakah aku punya tangan yang mampu menyibakan awan mendung yang berada di depanku? Apakah aku bisa berjalan seenaknya untuk menghindari awan yang menutupi ku? Tidak tanah, aku di atas hanya pasrah jika awan mendung menutupiku, berharap juga angin segera membawa pergi awan agar aku bisa menyinari bumi. Semuanya itu sudah ada yang mengatur, dan aku hanya bisa menjalani dengan senang hati.

Memang hari-hari terakhir ini hujan hampir turun sepanjang hari, cahayaku pun tak kunjung sampai ke bumi karena tertutup awan mendung yang hampir merata di cakrawala. Namun coba lihatlah lebih dalam, hujan yang turun selama beberapa hari ini mampu menaikan permuakaan air tanah. Sumur-sumur mulai kembali terisi persediaan air tanahnya, sehingga sumur tak jadi kering. Berkat kamu tanah, air hujan yang turun beberapa hari ini, ada yang diresapkan di dalam tanah, dan akhirnya mampu menambah jumlah persediaan air di dalam perut bumi. Perjuanganmu menahan dinginnya aliran air yang turun perlahan demi perlahan ke lapaisan tanah paling dalam membuahkan hasil. Lihat manusia tak kesulitan mencari sumber air. Berbeda dengan jalan-jalan yang sudah di beton dan di aspal, air hujan yang turun langsung berlalu begitu saja menuju saluran pembuangan air. Mereka tak menyerap air hujan sebanyak yang telah kamu lakukan. Maka itu syukurilah, berkat kamu harapan ketersediaan air tanah masih tetap terjaga. Melayani dengan tulus memang menutut pengorbanan yang tentu tak mudah. Namun jika dilaksanakan dengan penuh suka cita, rasanya pengorbanan yang dilakukan menjadi tak berasa." kata mentari. Tanahpun mengangguk-angguk tanda mengerti, dan raut mukanya yang muram berganti dengan ceria, sambil matanya memandang orang yang lagi menimba air di sumur.
Photobucket

Tuesday, November 8, 2011

Terima kasih buat hari ini

Candle

Dalam hidup yang sudah ku jalani hampir setengah perjalanan ada 3 hari, yaitu :
Yang pertama :
Hari kemarin.
Aku tak bisa mengubah apa pun yang telah terjadi, aku tak bisa menarik perkataan yang telah terucapkan. Aku tak mungkin lagi menghapus kesalahan, dan mengulangi kegembiraan yang pernah kurasakan kemarin. Aku juga tak mungkin lagi menghadirkan orang-orang yang sudah pergi mendahuluiku. Tetes air mata yang sudah jatuh rasanya tak kan dapat dikembalikan lagi. Biarkan hari kemarin lewat...biarkan masa lalu berlalu...

Yang kedua.
Hari Esok
Hari esok, ketika mentari terbit. Aku tak tahu apa yang akan terjadi. Susah, senang, semuanya masih tetap tanda tanya. Esok hari belum tiba, ku biarkan saja...dan ku tetap menunggu. Namun ku tetap percaya, penyertaanMu senantiasa besertaku sampai akhir jaman.

Yang ketiga.
Hari ini.
Pintu masa lalu telah tertutup, pintu masa depanpun belum tiba. Menjalani hari ini dengan terus belajar memaafkan hari kemarin dan melepaskan ketakutan akan esok hari. Hari ini yang kusadari, banyak orang yang begitu perhatian kepadaku, terima kasih telah menjadi bagian dalam perjalanan hidupku. Terima kasih telah saling menguatkanku dalam segala perkara, sehingga aku masih dapat tegar berdiri. Hanya doa yang dapat aku persembahkan buat kalian semua. Terima kasih...
Photobucket

Monday, November 7, 2011

Gorong-gorong

Menjelang siang yang panas, debu-debu mulai berterbangan di jalan raya. Jarak pandang mata serasa tertutup kabut. Jalan semakin sempit, mengingat ada pekerjaan pembuatan gorong-gorong saluran air. Sudah tak bisa dibayangkan macet terjadi jika menjelang bubaran sekolah atau kantor. Tak terbilang berapa orang yang mengeluh mengenai debu, macet dan semrawutnya jalan raya. Belum lagi, jalan-jalan kampung yang dibuat gorong-gorong, menambah jalan yang sempit semakin sempit lagi. Apalagi waktu siang, rumah-rumah pada tertutup rapat kala siang datang, mengingat debu-debu pada masuk ke rumah.

Kini ketika musim hujan datang, jalan-jalan yang biasanya tergenang air akibat hujan satu jam saja sudah tak terlihat lagi. Dulu sebelum dibuat tambahan gorong-gorong air, ketika hujan lebat rumah-rumah di sepanjang jalan merasa kuatir karena air hujan sering meluap dan masuk ke dalam rumah. Keluhan warga ketika musim hujanpun terucap. Kini ketika hujan datang dan tak terjadi banjir, rasanya orang sudah tak mengeluh.

Memandang diri sendiri, merasa dirugikan, merasa diganggu hal ini, itu rasanya sangat mudah terucap. Menahan diri, bersabar diri, dan mencoba memahami maksud dari suatu hal memang tidak mudah dilakukan. Namun ketika hal baik datang pada diri kita rasanya kita lupa akan proses apa yang sebelumnya terjadi. Sering terburu-buru menarik kesimpulan, hanya untuk mendapatkan sesuatu yang membenarkan diri kita, tentu sangat mudah dan sering kita lakukan.
Photobucket

Saturday, November 5, 2011

Sesuatu banget

minum kopi panas di sore hari adalah sesuatu banget

bibir kumat kamit meniup kopi yang masih panas banget

sambil ditemani pisang goreng yang masih anget

tangan sibuk menulis tentang cerita yang masih sempat diinget

sambil sesekali badan juga ikut berjoget

dari lagu yang terdengar dari sebuah gadget

lupakan sejenak pengeluaran yang melebihi budget

walaupun esok bakalan kayak ulet yang klogat-kloget

gara-gara tak punya uang jangan lah terlalu kaget

sapa tau esok hari dapat uang kaget

yang penting jalani hari dengan penuh greget

walau tiap hari makan dari lauk yang sering di'nget

semoga setiap hari menjadi hari yang sesuatu banget
Photobucket

Mencari bersama

Lovely

Seseorang yang telah mengembara di suatu hutan, akhirnya tidak menemukan jalan keluar. Bekalnya sudah habis, dan ia hampir putus asa. Dari kejauhan dia melihat seorang datang mendekatinya. Hatinya diliputi sukacita. Dia berpikir dalam hatinya, "Sekarang saya yakin akan menemukan jalan yang benar untuk keluar dari hutan ini."

Ketika mereka semakin mendekat satu sama lain, dia bertanya, "hai teman, maukah anda mengatakan kepada saya jalan keluar dari hutan ini? Saya telah mengembara di dalam hutan ini beberapa hari dan saya tak dapat menemukan jalan keluar. Bekal persediaan makanan juga sudah habis."

Lalu orang lain itu mengatakan kepadanya, "hey temanku, aku sendiri juga tak tahu jalan keluar dari hutan ini, sebab aku juga tersesat. Tetapi inilah yang dapat aku katakan. Jangan lewati jalan yang telah aku lalui, sebab aku tahu bahwa itu bukan jalan keluar. Sekarang marilah kita mencari bersama-sama jalan keluar dari hutan ini."

Friday, November 4, 2011

Buka Hati

Love,Photography,Art,Hearts,Jars

Hati seringkali diibaratkan sebagai pintu. Pintu sebagai tempat keluar masuk. Pintu yang mempunyai daun pintu, bisa dalam keadaan terbuka ataupun tertutup rapat, atau keadaan tidak terbuka ataupun tertutup. Membuka hati, ya sebuah langkah yang terkadang cukup sulit dilakukan. Kita mempunyai kecenderungan menutup hati terhadap orang lain, apalagi yang pernah bermasalah dengan kita. Kita cenderung kuatir jika kita disakiti lagi, terluka, ditolak, direndahkan. Hati sudah bagaikan pintu yang tertutup rapat disertai palang pintu dan gembok. Untuk melangkah mendekati aja orang sudah sungkan dan takut.

Hati yang tertutup rapat, ibarat sebuah ruangan tanpa ada udara, panas, sesak dan tak menyehatkan. Hati menjadi mudah panas, karena tak ada udara yang masuk dan keluar. Memang disadari tak mudah untuk membuka hati bagi mereka yang pernah menyakiti hati kita. Namun jika tak dicoba sampai kapan hati ini akan selalu tersiksa. Mulailah melepaskan pengait pintu, gembok pintu hingga palang pintu. Hingga akhirnya hati benar-benar terbuka. Karena dengan hati yang terbuka kita dapat mengasihi dan meraih kebahagiaan dalam hidup.

Selama hati kita masih tertutup, maka kita akan sulit memahami apa maksud dan rencana Tuhan melalui pengalaman hidup kita. Biarkanlah sapaan Tuhan, hari demi hari selalu masuk dalam pintu hati kita yang selalu terbuka. Jangan karena kita belum bisa menerima kesalahan orang lain hati kita selalu tertutup rapat, dan akibatnya suaraNya yang lembut tak akan menggema dalam hati kita.
Photobucket

Thursday, November 3, 2011

Hanya untaian doa

Karangan Bunga

Mendung sudah mengelayuti langit kota menjelang sore. Awan hitam merata di atap kota. Tinggal hitungan detik hujan deras pasti turun. Benar juga tak berapa lama hujan turun dengan derasnya. Hujan yang disertai angin, ah rasanya hal yang paling menakutkan. Teringat akan tahun lalu, hujan dan angin kencang memporak porandakkan atap genting rumah.
Hujan sore itu, membuat rasa cemas semakin menjadi-jadi. Sambil berdoa dalam hati, agar angin tak lagi memporak porandakan atap rumah. Tepat pukul 15.45 hujan deras berangsur-angsur reda. Awan kelam seperti tlah disibakkan dan berganti dengan awan putih. Kulangkahkan kaki untuk mengikuti perayaan ekaristi arwah. Baru kali ini aku tak membawa keranjang bunga untuk dimintakan berkat.

Misa berlangsung satu jam, dan tak turun hujan setetespun.
Setelah perayaan selesai,baru aku merasa ada yang kurang. Biasanya kami lalu pergi ke pusara bapak, simbah serta sanak saudara yang meninggal untuk tabur bunga. Namun kali ini tak ada tabur bunga
Walau tak ada untaian bunga di pusara, namun semoga keharuman doa yang kami panjatkan senantiasa membumbung tinggi ke Rumah Bapa di surga, Amin.
Photobucket

Wednesday, November 2, 2011

rona persahabatan

Friend Quote Pictures, Images and Photos

Apa yang kita alami demi sahabat kadang-kadang melelahkan dan menjengkelkan, tetapi itulah yang membuat persahabatan mempunyai nilai yang indah.

Persahabatan sering menyuguhkan beberapa cobaan, tetapi persahabatan sejati bisa mengatasi cobaan itu bahkan bertumbuh bersama karenanya.

Persahabatan diwarnai dengan berbagai pengalaman suka dan duka, dihibur, disakiti, diperhatikan, dikecewakan, didengar, diabaikan, dibantu, ditolak, namun semua ini tidak pernah sengaja dilakukan dengan tujuan kebencian.

Seorang sahabat tak menyembunyikan kesalahan untuk menghindari perselisihan, justru karena kasihnya ia memberanikan diri menegur apa adanya.

Diamnya seorang sahabat, bukan karena dia sudah enggan atau malas menyapa, tetapi lebih ingin menggunakan hati buat menyapanya secara lebih dekat.

Tuesday, November 1, 2011

Melangkah pergi dan menjauh

Love Sneakers

Belajar melangkah pergi dan menjauh...
Sebuah kata hati yang sering berkecamuk dalam hati.
Sangat mudah melangkah pergi dan menjauh jika mengalami peristiwa yang menyakitkan, ditolak, dikecewakan.
Dengan mudah melangkahkan kaki pergi menjauh, walaupun tak dipungkiri hati terasa berat.
Melangkah pergi dan menjauh bukan hanya sekedar yang tampak di mata.
Terkadang yang tak tampak di mata sangat banyak.
Sering bersua, namun hati yang ada di dalam justru perlahan pergi dan menjauh.
Hal akan terasa sulit jika melangkah pergi dan menjauh saat semua terasa menyenangkan.
Seperti lirik lagu kemesraan ini janganlah cepat berlalu...

Entah peristiwa menyenangkan ataupun menyedihkan yang melatar belakangi orang mulai pergi dan menjauh, rasanya ada hal yang tak
mudah tuk dilakukan.
Ada pergulatan hati dan perasaan.
Ada derai air mata yang mengalir keluar...
Dan semuanya terasa tak menyenangkan.
Photobucket

Total Pageviews

Persembahan Hati

Mentega dengan Roti