ku berjuang sampai akhirnya Kau dapati aku tetap setia

Monday, May 30, 2011

alasan kenapa kalau waktu suit semut menang melawan gajah

Petani bisa pakai semut untuk usir gajah


Berdasarkan hasil percobaan, Todd Palmer dari University of Florida dan Jacob Goheen dari University of Wyoming menarik kesimpulan kalau para petani bisa menggunakan semut untuk menghalau gajah masuk dan merusak lahan pertanian.
Ide Palmer dan Goheen itu muncul saat meneliti pola makan gajah di savana di Kenya. Mereka mendapati ada anomali pada pola makan gajah. Mamalia besar itu memakan hampir semua yang ada di depan mereka, kecuali 1 jenis pohon Acacia drepanolobiom yang dikerubungi semut.
Palmer dan Goheen membuat beberapa percobaan untuk mengetahui penyebab gajah melewati pohon itu. Pohonnya atau semutnya? Mereka memberibeberapa gajah empat ranting. Dua ranting dari pohon yang jadimakanan favorit gajah, Acacia mellifera--satu ranting bersih dari semut, satu lagi dikerubungi semut. Dua ranting lainnya berasal dari pohon Acacia drepanolobiom yang menjadi rumah semut. Ketika diberikan kepada gajah, satu ranting dibersihkan dari semut, sedangkan satu lagi tetap bersemut.
Ternyata, gajah tetap memakan ranting Acacia drepanolobiom selahap mereka memakan pohonfavorit mereka. Dengan catatan, tidak ada semut di ranting itu. Gajah tidak mau memakan ranting yang bersemut meskipun ranting itu berasal dari pohon favorit mereka."Mereka menghindari ranting bersemut itu seperti anak kecil menghindar ketika diberi brokoli," jelas Palmer kepada Discovery News.
Melalui pengamatan selanjutnya,para peneliti mengetahui kalau bagian dalam belalai gajah sangat sensitif. Ketika gajah mencoba memakan ranting pohon yang dikerubungi semut, belalainya bisa diserang sekolonisemut. Para peneliti kemudian membandingkan perubahan jumlah pohon tempat tinggal semut dengan jenis pohon lain di Lewa Wildlife Conservasy di Kenya pada tahun 2003 dan 2008. Vegetasi pohon tanpa semut berkurang, sedangkan vegetas pohon yang ditinggali semut nyaris tak berubah."Semut ternyata memainkan peran besar dalam menjaga ekosistem dengan menjaga stabilitas jumlah pohon," kata Palmer.
Jika semut bisa bertindak sebagai penjaga pohon di hutan,seharusnya semut juga bisa dipakai untuk menjaga tanamanpertanian sehingga konflik antara manusia dan gajah bisa berkurang.
Sumber: Discovery News
Foto: Doc/stock.xchng
dikutip dari national geograpic Indonesia

CoretanTengah Malam

Terlelap dan Terjaga

Rasa lelah tak kuasa
Membuat asa dan raga tak berasa
Membaringkan jiwa dan raga
Sampai lupa kepada sang Pencipta

Akhirnya ku terlelap
Apa yang terjadi hari ini serasa lenyap
Hanya tersisa malam yang sunyi senyap
Tanpa ada kata terima kasih yang terucap

Terlelap dan terjaga anugerah yang luar biasa
Di pagi ini ku terjaga
Mengingatkan ku tuk berdoa
Ucap syukur atas kebaikanMu yang boleh ku terima
(siGal)

Sunday, May 29, 2011

Sapaan lempeng bumi di hari Minggu 29 Mei 2011

Hari Minggu 29/05/11, kita sudah disapa dua gempa. Maka itu siap sedialah dengan sapaan bumi yang sewaktu-waktu akan menyapa kita.

1. Gempa bumi bekekuatan 5,3 skala richter (SR) mengguncang Cialacap, Jawa Tengah pada pukul 03.28 WIB, Minggu (29/5/2011).
 
Berdasarkan informasi yang dilansir Badan Metorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) pusat gempa berada di 8.75 Lintang Selatan dan 108.64 Bujur Timur dengan kedalaman 10 kilo meter.
 
Pusat gempa berada pada 121 km Barat Daya Cilacap-Jawa Tengah , 161 km Barat Daya Purwokerto-Jawa Tengah, 161 kilo meter Tenggara Ciamis-Jawa Barat , 164 kilo meter Tenggara Tasikmalaya-Jawa Barat , 350 km Tenggara JAKARTA.
 Gempa tersebut tidak berpotensi tsunami.



2. Gempa 6,3 SR Guncang Lampung
 Minggu, 29 Mei 2011 - 00:33 wib
Gempa bumi berkekuatan 6,3 Skala Richter (SR) mengguncang Lampung. Gempa ini tergolong kecil dan tidak berpotensi menimbulkan Tsunami.
 
Berdasarkan informasi dari Badan Metereologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), gempa terjadi pukul 00.07 WIB, Minggu (29/5/2011). Pusat Gempa Lokasi berada di 6,01 LS-103,24 BT, dengan kedalaman 10.
 
Sementara lokasi gempa berada di 119 km Barat Daya Krui-Lampung km, 136 kilo meter Barat Daya Bintuhan-Bengkulu , 141 km Barat Daya Liwa-Lampung, 221 km Barat Daya, Blmbnganumpu-Llampung , 399 km Barat Laut Jakarta-Indonesia.

Saturday, May 28, 2011

Orang Bisa Berubah dari...

Orang Bisa Berubah dari...
Tingkah laku orang, sifat orang bisa berubah karena beberapa hal :
Informasi
Tingkah laku orang bisa berubah dari informasi yang mereka peroleh. Bisa dari membaca buku, dari media cetak maupun elektronik. Bisa informasi dari orang-orang. Tapi biasanya tidak bertahan lama.
Formasi
Tingkah laku orang bisa berubah dari formasi, yaitu sistem yang mengarahkan. Bisa lewat jalur pendidikan sekolah. Bisa lewat pendampingan dalam keluarga. Dari keluarga kita didik cara bertingkah laku yang baik. Lewat sekolah kita diajarkan beberapa norma-norma baik yang tak tertulis dan tertulis yang dapat membentuk tingkah laku kita.
Pengalaman pahit
Dari pengalaman pahit, biasanya dapat merubah tingkah laku orang secara drastis. Misal dari yang dulunya manja apa-apa ada, lalu menjadi orang yang nrimo dan mau bekerja karena sebuah pengalaman pahit yang sedang diterimanya.
Kalau dari informasi, formasi, dan pengalaman pahit tingkah laku orang tidak berubah juga. Ya, itu namanya ndableg. Contohnya seperti tadi pagi, pegawai Depag yang menceritakan waktu dulu masih bertugas di lembaga pemasyarakatan di Gunung Kidul. Ada satu orang yang sudah 5 kali keluar masuk Rutan. Wah kalau orang seperti itu memang ndableg tenan. Lalu pertanyaan buat kita renungkan, apakah kita harus menunggu pengalaman pahit datang menghampiri kita agar tingkah laku kita berubah? Semoga kita tidak menjadi orang yang ndableg.
-siGal-(inspirasi dari homili sabtu malam 280511)

"Bertobat dan berbagi berkat"

"Bertobat dan berbagi berkat"

Bacaan : Filipi 3:8-14
Ayat emas :...aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang ada di hadapanku, dan berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus.

Cerita
Serigala dan Harimau
Di sebuah hutan hiduplah harimau dan serigala. kedua hewan ini selalu ditakuti oleh penghuni hutan lainnya. Lolongan srigala yang melengking selalu membuat hewan-hewan lainya pada sembunyi. Badan besar dan raungan harimau membut hewan-hewan lainya pada menyingkir. Sang Harimau dan serigala ini berteman sejak kecil sehingga sampai dewasa ini mereka tetap bersahabat. Tetapi ada hal kecil yg membedakan kedua binatang ini yang seringkali membuat keributan, yaitu soal ketamakan harimau. Dalam menyantap mangsanya harimau terlalu rakus, sehingga dia lupa tuk menyisihkan sebagian sisa buruannya tuk anak-anaknya. Seringkali yang memberi makan harimau-harimau kecil adalah sang serigala. Suatu ketika serigala itu terluka, luka yang diderita serigala terjadi karena ia berusaha menolong harimau yang dikejar pemburu. Sang serigala berusaha menyelamatkam kawannya. Namun sayang sebuah panah yang telah dibidik malah mengenai kaki belakangnya. Kini hewan bermata liar itu tidak bisa berburu lagi bersama sang harimau yang tamak. Dan kini sang serigala ditemani bersama-sama dengan harimau-harimau kecil sembunyi dan berdiam diri di sebuah gua. Sang harimau yang tamakpun tahu bagaimana membalas budi. Setiap kali ia berburu, dan mendapatkan mangsanya. Ia lalu teringat akan sang serigala yang telah menyelamatkan nyawanya dan teringat akan anak-anaknya. Yang dulunya selalu melalap habis buruanya, sekarang selesai berburu di mulutnya selalu tersisa sepotong daging besar untuk di bawa pulang ke gua. Walaupun sedikit sang serigala bersama harimau-harimau kecil selalu mendapat bagian dalam hewan burun sang harimau. Sang harimau paham bahwa tanpa bantuan sang kawan, ia pasti sudah mati terpanah si pemburu. Sebagai balasannya, sang serigala selalu berusaha menjaga harimau-harimau kecil dari gangguan hewan-hewan lainnya. Lolongan serigala selalu tampaj mengerikan bagi siapapun yang mendengar. Walaupun sebenarnya ia tidak bisa berjalan dan hanya teronggok di pojok gua. Rupanya peristiwa tersebut menyadarkan sang harimau yang dulunya tamak menjadi harimau yang mau berbagi.

Adik-adik cerita tadi mengingatkan kita akan pelajaran tentang persahabatan dan kerja sama. Namun ada suatu hal kecil yang patut diingat disana bahwa berbagi, menolong,membantu sudah selayaknya menjadi makanan dalam kehidupan kita. Bukan karena hal itu adalah sebuah keterpaksaan, bukan pula karena didorong rasa kasihan dan ingin membalas budi. Berbagi dan menolong sesama yang membutuhkan merupakan ciri-ciri anak Tuhan yang baik. Dalam berbagi akan terpantul bahwa kebesaran Tuhan hadir dalam tindakan dan perilaku yang kita lakukan. Semoga semangat besyukur,bertobat dan berbagi berkat dapat semakin kita pupuk hari ke hari.

Doa
Yesus yang baik, terimakasih atas segala berkat-berkat yang boleh kami terima. Semoga berkat yang kami terima bukan hanya tuk kami nikmati sendiri saja, tetapi untuk dapat kami bagikan juga kepada sesama kami. Amin

-si gal-

Sri kitri werdi ndadi.

Sri kitri werdi ndadi.

ferd.wakidjan

” Sri kitri werdi ndadi, endhek-endhek mentua, dhuwur-dhuwur ndadiya.” Demikian mantra seorang kakek sewaktu bersama cucunya menanam cikal ( bibit kelapa) di kebunnya. Tertarik akan hal tersebut seorang pemuda mendekat dan bertanya. ”Lho mbah , sampun sepuh kok taksih nanem klapa , kangge sinten?” ( Lho kek sudah tua kok masih menanam kelapa, untuk siapa). ”Lho, krambil sing saiki dianggo bumbu kae, aku ora rumangsa nandur, lan ora ngerti sapa sing nandur, ning aku kok ya melu ngrasakake!” jawab si kakek. ( Lho kelapa yang sekarang untuk bumbu, saya tidak merasa mananam, dan tidak tahu siapa yang menanam, akan tetapi saya juga ikut marasakan). ”Inggih nggih mbah,” jawab pemuda mengamini ucapan kkakek. Lebih penasaran lagi, sewaktu kakek menaruh bibit kelapa di dalam lubang, terdengar kata-kata indah dalam bahasa Jawa, sehingga pembicaraan berlajut: ” Simbah wau wekdal nanem mungel pripun?” ( Simbah waktu menanam berkata apa) tanya pemuda dengan bahasa Jawa yang kurang baik. Simbah menjawab agak panjang, kalau dialih bahasakan menjadi: Sri kitri= segala tanaman atau tumbuhan, endek-endhek metua = kalau tumbuh rendah ( kuntet) berbuahlah, dhuwur-dhuwur ndadiya= kalau tumbuh tinggi dan subur, berbuahlah yang lebat. Maksudnya, apabila tanaman ini tumbuh rendah, berbuahlah. Sedang kalau tumbuh tinggi dan subur berbuahlah yang lebat. Semua karya, usaha dan upaya dalam rangka mencukupi hidup dan kehidupan, harus bertumpu pada doa. Mohon kepada yang membuat hidup dan kehidupan yana berada di atas sana. Siapa saja yang memulai pekerjaan harus melambarinya dengan doa pengharapan. Juga perlu dimengerti, bahwa hidup ini tidak berakhir pada suatu titik menurut manusia. Titik kehidupan ditentukan oleh Yang Maha Kuasa. Jangan hanya memikirkan diri sendiri. Rawatlah alam yang disediakan Tuhan untuk umat manusia. Manusia tidak boleh serakah dan egois, yang ini aku yang membuat, yang ini aku yang menghabiskan. Alam masih di manfaatkan oleh anak cucu. Tanaman yang kita tanaman hari ini biarlah anak cucu yang “ ngundhuh”.

”Tanamlah kebaikan, nanti kita akan menuai kebaikan. Dan biarlah kebaikan yang telah kita tanam dinikmati oleh orang lain, atau keturunan-keturunan yang akan lahir di kemudian hari.”

Friday, May 27, 2011

kenangan 27 Mei 2006

Kenangan 27 Mei 2006
Seperti hari-hari biasa aku selalu bangun tiap hari pukul setengah 7 pagi. Hari sabtu pagi itu pukul 05.55 aku langsung bangun gara-gara suara hurug-hurug dan bumi yang bergoncang. Lari menuju pintu depan rumah. Disana sudah ada ibu ku yang menunggu. Gempa masih berlangsung. Lalu terdengar suara teriakan ibu ku "rene pak." Kulihat bapaku sedang berjalan membawa dua ember berisi air ditengah guncangan gempa. Saking kuatnya guncangan waktu itu kulihat bapaku terjatuh. Lalu dengan meninggalkan ember yang telah tumpah bapak menghampiri kami berdua yang ada di depan pintu rumah. Kami bertiga saling berangkulan satu sama lain. Sambil air mata dan doa dari ibuku yang waktu itu terdengar. Sementara waktu itu kakak ku belum pulang dari misa harian di gereja, sedangkan simbahku masih tertinggal di dalam rumah.
Sudah lima tahun berlalu tak menyangka itu sebuah pelukan terakhir kami bersama bapak. Ya, pelukan 27 Mei 2006 itu merupakan sebuah kenangan yang tak mungkin kulupakan.
-siGal-

Thursday, May 26, 2011

Ketika kita masih anak-anak

Ketika anak kecil berkelahi
Masih ingat ketika kita masih anak-anak.
Kita pernah ejek-ejekan...
Tak jarang berkelahi.
Saling mendiamkan satu sama lain...
Masalahnya sering kali hanya sepele seperti bermain.
Awalnya dapat rukun bermain bersama.
Tak beberapa lama timbul pertengkaran.
Jika keduanya tidak mau mengalah tak jarang berlanjut ke perkelahian. Dan salah satu pasti ada yang menangis. Tapi sering keduanya menangis bareng.
Tapi tak berapa lama juga mereka dapat kembali main bersama lagi, bercanda, dan ngomong-ngomong lagi.
Kenapa ya, orang-orang dewasa sering melupakan bahwa dulu waktu kecil, kita memiliki hati yang mudah melupakan kesalahan orang?
-siGal-(260511 sore hari waktu memisah dua anak yang berkelahi, yang satu jagoan yang satunya lagi tidak mau ngalah wes jan komplit tenan)

Tentara dan laba-laba

Sekedar berbagi kisah indah di pagi hari...



Pada saat terjadi Perang Dunia II di kepulauan Pasifik, ada seorang tentara yang terpisah dari unitnya dikarenakan adanya pertempuran yang sangat gencar, penuh asap, dan banyak tembakan di mana-mana. Sementara dia berada sendirian di dalam hutan, dia mendengar akan datangnya suara jejak kaki dari pihak tentara musuh yang mulai datang mendekat ke tempat persembunyiannya. Sambil terus berusaha untuk mencari tempat persembunyian yang lainnya, dia mulai merayap naik ke sebuah bukit dan menjumpai adanya beberapa gua di sana.

Dengan cepat dia segera merangkak untuk masuk ke dalam salah satu gua tersebut. Dia merasa aman untuk sementara waktu, sampai dia menyadari bahwa jika ada tentara musuh yang melihatnya merayap naik ke atas bukit, mereka pasti akan segera memeriksa semua gua. Di dalam gua itu, dia mulai berdoa kepada Tuhan, "Tuhan, jika ini kehendak-Mu, tolong lindungilah aku. Apapun yang terjadi, aku akan tetap mencintai-Mu dan mempercayai-Mu. Amin." Setelah berdoa, dia segera bertiarap dan mulai mendengar akan datangnya tentara musuh yang mulai datang mendekat. Dia mulai berpikir, "Baiklah, aku kira Tuhan pasti tidak akan menolongku dari situasi ini."

Kemudian dia melihat ada seekor laba-laba yang mulai memintal jaring di depan gua persembunyiannya. Sementara dia mengawasi tentara musuh yang sedang mencarinya, lala-laba itu terus membentangkan benang-benang jaring di pintu masuk gua. Dia terkejut dan berpikir, "Yang aku butuhkan sekarang adalah sebuah tembok pertahanan, mengapa Tuhan malah memberiku sebuah jaring laba-laba? Pasti Tuhan sedang bercanda kepadaku." Dari kegelapan dia melihat musuh mulai datang mendekat, memeriksa setiap gua, dan dia bersiap-siap untuk memberikan perlawanan terakhirnya.

Namun, yang membuatnya heran adalah tentara musuh hanya melihat sekilas ke arah gua persembunyiannya, dan setelah itu mereka pergi begitu saja. Tiba-tiba dia menyadari bahwa ternyata jaring laba-laba yang terletak di depan pintu gua, telah membuat gua itu terlihat seperti belum pernah ada seseorang yang memasukinya. Karena kejadian itu, dia berdoa dan meminta ampun kepada Tuhan karena sudah meragukan pertolongan-Nya. "Tuhan, ampunilah aku. Aku lupa bahwa di dalam Engkau, jaring laba-laba dapat menjadi lebih kuat daripada dinding beton."

Di dalam kehidupan ini, kita pun juga sering menganggap bahwa Tuhan harus menyediakan dan mengerjakan hal yang besar dan dahsyat terlebih dahulu untuk menolong di dalam hidup kita. Tetapi, kita sering melupakan bahwa di dalam Tuhan, hal yang kecil dan remeh bisa dipakai-Nya untuk menolong kehidupan kita. Sama seperti ada tertulis,  "Sebab yang bodoh dari Allah lebih besar hikmatnya dari pada manusia dan yang lemah dari Allah lebih kuat dari pada manusia." (1 Korintus 1:25).
Tuhan Yesus memberkati .

Wednesday, May 25, 2011

pembekalan dirigen dan pemazmur

Pembekalan dirigen dan Pemazmur lingkungan

para peserta pelatihan
Sebanyak kurang lebih 30 orang hadir dalam undangan pembekalan dirigen dan pemazmur lingkungan yang diselenggarakan oleh Gregorius Caecilia dan Pemazmur paroki Kumetiran pada hari Minggu 22 Mei bertempat di panti paroki atas. Walaupun  yang ikut ambil bagian dalam pertemuan malam itu belum sepenuhnya lingkungan-lingkungan yang ada di paroki Kumetiran hadir, tetapi tidak menyurutkan semangat peserta yang hadir untuk mengikuti pembekalan. Pembekalan kali ini tidak hanya sekedar mendengarkan pemaparan singkat dari Bp.Antonius Widyarto yang akrab dipanggil dengan pak Tonie, selaku pemberi materi dirigen, tetapi peserta yang hadir juga diminta praktek. Materi pembekalan kali ini dibagi menjadi 2 sesi, sesi pertama tentang dirigen dan sesi kedua tentang pemazmur. Pemaparan singkat tentang tugas dirigen yang pertama adalah memberi aba-aba. Aba-aba hendaknya menjadi sarana komunikasi yang mantap antara dirigen dengan anggota kor.  Maka perlu diusahakan saling pengertian yang terus bertumbuh.Tugas dirigen yang kedua yaitu kontrol dan produksi suara. Sengaja dipilih istilah produksi karena dengan istilah tersebut nyata-nyata suara yang dihasilkan oleh para penyanyi itu sungguh-sungguh digarap/dihasilkan dengan suatu proses yang disadari. Pembagian suara (sopran, alto, tenor, bas) hendaknya ditetapkan dengan pertimbangan obyektif, bukan berdasarkan selera, kemudahan dan kesenangan dengan not yang mudah. Kemudian tugas dirigen yang ketiga ialah memahami nyanyian dan menentukan interpretasi. Setelah pemaparan singkat, lalu diadakan praktekan aba-aba dari 2/2, 6/8, 3/4,4/4 dan gregorian dengan lagu-lagu yang sudah familiar ditelinga.
Sesi kedua dilanjutkan dengan materi pemazmur yang dibawakan oleh Bp.Agustinus Agung Prasetyo. Dalam pemaparan materinya juga diawali tentang hal-hal yang berkaitan tentang mazmur, baik pengertian kitab mazmur, bentuk mazmur. Dalam liturgi sabda sering ada mazmur tanggapan yang menanggapi sabda Tuhan. Peran mazmur tanggapan yaitu sebagai tanggapan atas bacaan pertama, dan berfungsi sebagai pewartaan yang bersifat non rasional yang menuntut keterlibatan perasaan dan apresiasi terhadap suatu ungkapan seni. Jadi peran mazmur tanggapan tidak boleh secara mudah digantikan oleh lagu antar bacaan. Menginjak ke tugas pemazmur yaitu membawakan/melagukan mazmur tanggapan dapat pula membawakan ayat dalam bait pengantar Injil. Persiapn yang perlu dilakukan sebelum bertugas meliputi persiapan pribadi dengan berdoa mohon terang roh kudus. Latihan pribadi, latihan bersama dengan dirigen dan pengiring dan menjaga kesehatan alat-alat suara. Pada saat menyanyikan hendaknya bersikap tenang dan rileks, pandangan mata berganti-ganti antara teks dan umat. Apabila terjadi kesalahan baik nada maupun syair tidak perlu diulangi, diteruskan saja. Pertemuan yang dimulai pukul 19.30 akhirnya selesai puku 21.45. Sebagai kelanjutnya tim kerja koor paroki juga berencana mengadakan lagi pembekalan lain yang berkaitan dengan musik liturgi di lain waktu.
-siGal-

Tuesday, May 24, 2011

PESAN BAPA SUCI BENEDIKTUS XVI

  PESAN BAPA SUCI BENEDIKTUS XVI
PADA HARI KOMUNIKASI SEDUNIA ke-45
5 Juni 2011
"Kebenaran, Pemakluman dan Kesejatian Hidup di Jaman Digital"

Saudara dan Saudari Terkasih,
Pada kesempatan Hari Komunikasi Sosial Sedunia yang ke-45, saya ingin berbagi beberapa refleksi yang dimotivasi oleh suatu ciri khas yang menggejala jaman kita:  munculnya internet sebagai jejaring  komunikasi. Ada pendapat yang  semakin umum bahwa, sebagaimana revolusi industri yang pada masanya menghasilkan suatu transformasi besar dalam masyarakat melalui perubahan-perubahan yang terjadi ke dalam lingkaran produksi dan kehidupan para pekerja, demikian juga berbagai perubahan mendasar yang terjadi di dalam komunikasi di jaman sekarang ini sedang memandu  perkembangan-perkembangan budaya dan sosial yang signifikan.  Teknologi baru tidak hanya mengubah cara kita berkomunikasi melainkan juga memengaruhi komunikasi itu sendiri sedemikian rupa sehingga orang menegaskan bahwa kita sementara hidup dalam suatu periode transformasi budaya yang besar. Sarana penyebaran informasi dan pengetahuan ini melahirkan suatu cara baru belajar dan berpikir dengan peluang-peluang yang belum pernah terjadi guna menegakkan antar hubungan dan membangun persekutuan .
Kini, cakrawala baru yang tak terbayangkan sebelumnya telah terbuka.  Cakrawala-cakrawala tersebut membangkitkan kekaguman  karena kemungkinan-kemungkinan yang disodorkan oleh media baru itu,  dan pada saat yang sama amat menuntut suatu permenungan yang serius tentang makna komunikasi di jaman digital. Hal ini secara khusus menjadi jelas ketika kita menghadapi kemampuan luar biasa internet  dan kerumitan pemakaiannya.  Sebagaimana halnya dengan setiap hasil kecakapan manusia, teknologi komunikasi baru harus diperuntukkan bagi pelayanan  kebaikan perorangan dan umat manusia secara utuh. Jika dipergunakan dengan bijaksana, teknologi komunikasi baru dapat memberikan sumbangsih bagi pemenuhan kerinduan akan makna, kebenaran dan kesatuan yang tetap menjadi cita-cita terdalam setiap manusia.
Dalam dunia digital, menyampaikan informasi kian dipahami dalam suatu  jejaring sosial dimana  pengetahuan terbagi dalam konteks pertukaran pribadi. Perbedaan yang jelas  antara penyedia informasi dan pengenyam informasi menjadi relatif; dan  komunikasi  tidak hanya nampak sebagai pertukaran data tetapi juga sebagai suatu bentuk berbagi. Dinamika ini menyumbangkan bagi suatu penilaian baru tentang komunikasi itu sendiri, yang terutama dipandang sebagai dialog, pertukaran, solidaritas dan penciptaan hubungan-hubungan yang positif. Pada sisi lain,  hal ini  diperhadapkan dengan keterbatasan-keterbatasan yang khas dari komunikasi digital:  interaksi sepihak, kecenderungan mengkomunikasikan hanya sebagian dari dunia batin seseorang, resiko pencitraan  palsu  seseorang  yang dapat menjadi suatu bentuk  kepuasan  diri sendiri.
Secara khusus, kaum muda sedang mengalami perubahan ini dalam komunikasi  dengan semua  kecemasan, tantangan dan daya cipta, yang khas bagi orang yang terbuka dengan antusiasme dan rasa ingin tahu akan pengalaman-pengalaman baru dalam hidup.  Keterlibatan mereka yang semakin besar dalam forum digital publik yang tercipta oleh jejaring-jejaring  sosial membantu melahirkan bentuk-bentuk baru  dari hubungan-hubungan antar pribadi memengaruhi kesadaran diri sendiri dan  oleh karena itu tak pelak lagi mempertanyakan bukan saja bagaimana seharusnya bertindak tetapi juga tentang kesejatian jati dirinya. Masuk ke dalam ruang maya dapat menjadi tanda  pencarian yang otentik  akan perjumpaan pribadi dengan orang lain, asalkan tetap tanggap terhadap bahaya seperti menyertakan diri dalam sejenis eksistensi ganda atau menampilkan diri secara berlebihan di dalam dunia maya. Dalam upaya berbagi dan mencari "teman",  terdapat tantangan  untuk menjadi otentik dan setia dan tidak menyerah kepada ilusi  untuk mencitrakan tampang publik yang palsu bagi diri sendiri.
Teknologi baru memungkinkan  untuk saling bertemu di luar batas-batas ruang dan budaya mereka sendiri,  dengan menciptakan sebuah dunia yang sama sekali baru dari persahabatan-persahabatan potensial.  Ini merupakan suatu peluang besar tetapi juga menuntut  perhatian yang lebih besar  dan kesadaran akan resiko yang mungkin. Siapakah "tetangga" saya di dalam dunia baru ini? Entahkah ada bahaya bahwa  kita mungkin kurang hadir  bagi mereka yang kita jumpai dalam hidup harian kita? Apakah ada risiko menjadi lebih terganggu karena  perhatian kita terbagi-bagi  dan terserap di suatu "dunia lain" daripada dimana kita hidup? Apakah kita mempunyai waktu untuk merenungi  pilihan kita secara kritis dan memajukan hubungan yang sungguh mendalam dan berdaya tahan?  Pentinglah  untuk selalu mengingat bahwa  kontak virtual tidak dapat dan tidak boleh mengganti kontak manusiawi langsung dengan orang-orang  di setiap tingkat kehidupan kita.
Dalam era digital juga, setiap orang dihadapkan dengan kebutuhan  akan otentisitas dan refleksi. Selain itu, dinamika yang melekat di dalam jejaring sosial menunjukkan bahwa  seseorang  senantiasa terlibat dalam apa yang ia komunikasikan. Tatkala orang saling menukar informasi, mereka sudah mensyeringkan diri mereka, pandangannya tentang dunia, harapan dan cita-cita mereka.  Lantas, cara hadir yang khas kristiani di dunia digital adalah bentuk komunikasi yang jujur dan terbuka, bertanggungjawab dan hormat akan orang lain. Memaklumkan Injil melalaui media baru berarti tidak sekadar memasukkan isi religius secara terbuka ke dalam berbagai pentas media, tetapi menjadi saksi setia di dunia digital itu sendiri dan cara seseorang mengkomunikasikan pilihan-pilihan, apa yang utama, serta keputusan-keputusan yang sepenuhnya selaras dengan Injil bahkan ketika hal itu tidak  terungkap secara khusus. Selanjutnya, benar juga bahwa di dalam dunia digital  pesan tak dapat disampaikan tanpa disertai dengan kesaksian yang konsisten dari  pihak yang meyampaikannya. Dalam situasi baru itu dan dengan bentuk pengungkapan baru,  orang Kristen sekali lagi dipanggil untuk memberikan jawaban kepada siapa saja yang meminta pertanggungjawaban terhadap pengharapan yang ada dalam diri mereka (bdk. 1 Petrus 3:15)
Tugas memberikan kesaksian tentang Injil di era digital menuntut setiap orang untuk secara istimewa memiliki kepekaan terhadap aspek pesan yang dapat menantang  cara berpikir khas internet. Pertama-tama,  kita harus menyadari bahwa  kebenaran  yang ingin kita bagikan bukan berasal dari nilai "popularitas"nya atau jumlah perhatian yang diterima. Kita harus berusaha memperkenalkannya secara utuh, bukan sekadar supaya dapat diterima atau sebaliknya  malah melemahkannya. Ia harus menjadi makanan harian dan bukannya daya tarik sesaat. Kebenaran Injil bukanlah sesuatu yang memberikan rasa puas atau digunakan secara dangkal, melainkan pemberian yang menuntut jawaban  bebas. Bahkan apabila diwartakan dalam dunia internet, Injil harus terjelma dalam dunia nyata dan berkaitan dengan wajah riil saudara dan saudari kita, mereka  yang dengannya kita berbagi keseharian hidup kita. Hubungan manusiwi yang langsung tetap menjadi fundamental bagi pemakluman iman.
Oleh karena itu, saya ingin mengajak orang-orang kristiani  dengan percaya diri, dan dengan kreatifitas yang terbina dan bertanggungjawab bergabung dalam jejaring hubungan yang dimungkinkan oleh jaman digital. Hal ini bukan saja untuk memuaskan keinginan untuk hadir, tetapi karena jejaring ini merupakan bagian utuh dari hidup manusia. Internet memberikan sumbangsih bagi perkembangan cakrawala intelektual dan spiritual yang lebih kompleks, bentuk-bentuk baru kesadaran  berbagi. Di dalam wilayah ini juga kita dipanggil untuk memaklumkan iman kita bahwa Kristus adalah Allah, Penyelamat umat manusia dan Penyelamat sejarah,  yang di dalam-Nya segala sesuatu memperoleh kepenuhannya (Bdk. Ef. 1:10).  Pewartaan Injil menuntut sebuah komunikasi  yang  sekaligus penuh hormat dan peka, yang menggugah hati dan menggerakkan kesadaran; cerminan suri teladan Yesus yang bangkit tatkala Ia bergabung bersama para murid-Nya dalam perjalanan ke Emaus (bdk. Lk. 24:13-35). Dengan cara pendekatan-Nya, dialog-Nya bersama mereka, cara-Nya yang lembut menggerakkan hati,  mereka perlahan-lahan dituntun  kepada suatu pemahaman akan misteri.
Dalam analisis terakhir, kebenaran Kristus merupakan jawaban yang utuh dan otentik bagi kerinduan manusia akan hidup relasi, persekutuan dan makna yang tercermin  dalam popularitas jejaring sosial yang meluas. Orang beriman yang memberikan kesaksian iman yang sungguh mendalam  tentu memberikan  bantuan yang berharga bagi internet  agar tidak menjadi sarana yang memerosotkan kepribadian manusia, memanipulasi secara emosional, dan yang memberikan kemungkinan kepada yang berkuasa  untuk memonopoli pendapat orang lain.  Sebaliknya, orang beriman mendorong setiap orang  untuk terus menghidupkan  pertanyaan manusiawi yang abadi  sebagai ungkapan  kerinduan akan sesuatu yang trasenden dan  dambaan akan bentuk-bentuk yang otentik dari kehidupan yang patut  untuk dihayati.  Justru hasrat rohani yang unik manusiawi  inilah yang mengilhami upaya kita untuk mencari kebenaran dan  persekutuan dan mendesak kita untuk berkomunikasi dengan keutuhan dan kejujuran.
Saya mengundang terutama kaum muda untuk sungguh-sungguh hadir secara berdaya guna di dunia digital. Saya mengulangi lagi undanganku bagi mereka untuk Hari Kaum Muda Sedunia di Madrid, dimana teknologi baru  sedang  memberikan sumbangannya yang besar bagi persiapannya.  Dengan pengantaraan pelindungnya St. Fransiskus de Sales, saya berdoa agar  Allah menganugerahi  para pekerja di bidang komunikasi kemampuan untuk melaksanakan karya mereka  dengan sadar dan profesional. Kepada kalian semua, saya memberikan berkat apostolik saya.
Vatikan 24 Januari 2011
Pesta St. Fransiskus de Sales

    Benedictus PP XVI

Masih tentang lilin

Masih tentang lilin
Kulangkahkan lagi kakiku masuk dalam rumahMU...
Kulihat sudah ada dua lilin yang menyala...
Mencoba menerangi sekitarnya dengan kesederhanaannya.
Lilin-lilin yang menyala itu tampak lebih kecil dari lilin yang belum dinyalakan.
Panasnya api telah membuat lilin lilin itu meleleh...
Tetapi dari nyala kedua lilin tersebut yang awalnya gelap mulailah perlahan-lahan tampaklah sebuah cahaya yang mulah bersinar.
Ya awalnya tampak remang-remang...
Tapi lambat laun menjelang kedatanganNYA, cahaya itu akan semakin bersinar terang benderang menerangi suasana sekitar...
Tetapi hari ini apakah kita, berani menjadi lilin yang ketiga, untuk kembali dinyalakan?
Atau hanya berdiam diri, takut meninggalkan kenyaman yang sudah kita terima?
Keenakan, kenyamanan jauh dari penderitaan.

-siGal-

Monday, May 23, 2011

minum teh di sore hari

Si pembuat teh
Suatu kegiatan rutin tiap sore hari yaitu berkumpul bersama anggota keluarga dengan minum teh panas. Secara rutin kebiasaan itu dilakukan dengan cara bergiliran ada yang bertugas memasak air, ada yang bertugas menyiapkan gelas, gula dan membuat teh. Kali ini giliran anak sulung yang ingin sore itu memasak air. Air sudah dimasukan dalam ceret, lalu dinaikan ke atas kompor. Sambil menunggu air matang, anak sulung lalu ngobrol di depan rumah sama si bapak. Ngobrol ngalor ngidul lama si bapak lalu menyuruh sudah matang belum airnya. Lalu si anak sulung menengok air di dapur ternyata belum juga mendidih airnya. Lalu si sulung berinisiatif sambil menunggu di dapur ia mempersiapkan teko buat menyeduh teh, dan mempersiapkan gelas-gelas yang akan dituangkan teh buat bapak, ibu dan ke dua adik-adiknya. Setelah selesai mempersiapkan, lalu ia pergi ke depan rumah dan ngobrol lagi dengan bapaknya. Lama ngobrol lalu si bapak menyuruh lagi untuk mencoba menegok lagi, masak udah lama airnya juga belum mendidih. Lalu si anak sulung menengok lagi. Setelah sampai di dapur dan diamat-amatinya kenapa airnya gak mendidih, kok ceretnya tidak mengeluarkan uap eh ternyata kompornya lupa dinyalakan.(homili perdana dari Rm.Sunu,Pr di rmhnya)
-siGal-

burung pelikan

Belajar dari burung pelikan

Burung pelikan menjadi simbol pengorbanan karena ujung paruh mereka yang berwarna merah. Bila ibu pelikan tidak dapat mencari makanan untuk anaknya, ia akan menusukkan paruhnya ke dalam tembolok/dadanya dan memberikan darahnya sendiri untuk anak-anaknya. Seperti salah satu gambar yang ada di gereja St.Antonius Kotabaru. Itu sebabnya pula mengapa lambang tongkat Uskup Agung Semarang berupa induk burung pelikan. Mari kita senantiasa rela berkurban dengan tulus hati bagi sesama kita.
-siGal-

Jangan hilang harapan

Kenapa setiap hari ada yang hilang?
Menyaksikan tayangan di salah satu stasiun swasta dan salah satu berita di waktu siang hari selalu aja ada berita orang hilang. Itu belum termasuk orang yang kehilangan tapi belum melapor di media cetak atau elektronik karena keterbatasan biaya. Lalu kita berpikir, Setiap hari saja ada orang hilang, apalagi barang-barang, mulai dari uang receh, perhiasan, dompet, helm, motor, dan barang berharga lainnya. Dulu tanaman juga sering hilang, sekarang yang paling marak juga pencurian burung. Dari sekian banyak kehilangan, yang paling berbahaya jika setiap hari ada orang yang kehilangan HARAPAN. Lebih membahayakan lagi jika yang mengalami orang-orang muda. Cobaan, tantangan, rintangan yang ada janganlah menyurutkan harapan yang ada. Semoga kita bisa menjadi pembawa harapan bagi sesama kita. Biarpun setiap hari ada yang hilang, jangan biarkan satu detikpun harapan hilang dari kita dan sesama kita.
-siGal-

Sunday, May 22, 2011

Telurnya mau diceplok atau didadar

Telurnya diceplok atau didadar

Asalnya dari barang yang sama yaitu telur. Ada yang diceplok dan ada yang didadar. Keduanya paling enak jika dipasangkan dengan nasi goreng. Makanya tiap kali pesen nasi goreng selalu ditanya telurnya mau diceplok atau di dadar? Di dadarpun ada yg model dikrawu atau dicampur atau diiris tipis-tipis. Itu kalau nasi gorengnya beli sendiri di warung atau yang dijajakan keliling. Kalau nasi goreng dihidangkan untuk orang yang banyakpun bentuk mau diceplok atau didadar akan mempengaruhi anggaran yang dikeluarkan. Dengan telur diceplok akan memakan anggaran yang banyak daripada dengan model didadar. Dengan diceplok 1 telur untuk 1 porsi, tetapi dengan didadar dapat mengabungkan beberapa telur untuk dijadikan beberapa porsi. Ada juga yang mengakalinya dengan nasi gorengnya dibungkus dgn telur yang dijadikan seperti kulit lumpia. Jadi sambil memotong dan membuka kulit luarnya akan langsung ketemu nasi goreng dan telurnya. Cara penyajian telur entah mau diapakan didadar atau diceplok tanpa disadari aku mempengaruhi nafsu untuk menghabiskan nasi goreng. Jika nasi gorengnya telurnya didadar maka dijamin pasti satu piring tidak habis, eh jika dengan diceplok pasti dijamin 1 piring habis, seperti malam ini. Emang aneh...ckck.
-siGal-(220511, pkl 23.00)

Paskahan PIA se-kevikepan DIY 2011 Bersama Uskup Agung Semarang

Menjadi matahari-matahari kecil bagi sesama
Sebanyak ratusan anak-anak PIA dari berbagai gereja se kevikepan DIY mengadakan acara paskahan anak bersama Uskup Agung Semarang Mgr.J.M.Pujosumarto pada hari minggu (22/5) bertempat di taman hijau kanisius Deresan. Rangkaian acara didahului dengan perayaan ekaristi secara konselebran. Dalam sapaan awalnya Mgr. Pujosumarto mengajak anak-anak untuk bersyukur di pagi ini tidak turun hujan. Dan matahari di pagi in tampak bersinar. Kita sebagai anak-anak terang juga harus menjadi matahari-matahari kecil bagi sesama kita. Setelah sapaan singkat tersebut beliau mengajak anak-anak yang mengikuti ekaristi untuk memakai ikat kepala kuning yang dibagikan, sebagai tanda bahwa kita telah diikat oleh kasih Kristus. Dalam homilinya Mgr. Pujo mengatakan bahwa jika kita pergi entah kemana apa yang sering diingat? Yang perlu diingat adalah Tuhan Yesus, karena dalam sabdaNYA Yesus mengatakan bahwa Akulah jalan kebenaran dan hidup. Lalu beliau melanjutkan lagi bertanya kenapa kok Uskup kalau pergi selalu membawa tongkat? Sedangkan anak-anak yang disini tadi kenapa pergi ke sini tidak membawa tongkat? Dengan jawaban guyon uskup mengatakan bahwa karena uskupnya sudah tua dan anak-anak yang disini masih muda. Lalu dilanjutkan dengan pertanyaan lambang apa yang tergambar di tongkat bapak Uskup? Lambang burung pelikan. Tergambar induk burung pelikan. Induk burung pelikan yang rela memberikan temboloknya untuk dimakan anak-anaknya. Seperti cerita aji saka yang dipaparkan oleh seorang anak dari PIA Pringwulung. Yang menanggapi tantangan bapak uskup siapa yang dapat menceritakan cerita aji saka. Seusai perayaan ekaristi lalu diadakan sesi tanya jawab perwakilan pia dari berbagai gereja dengan bapak uskup. Salah satunya ada yang bertanya apa cita-cita bapak uskup ketika kecil? Beliau mengatakan ingin menjadi tukang kebun. Karena dengan menjadi tukang kebun dapat merawat bunga-bunga yang tumbuh indah bermekaran. Bapak uskup juga sempat memakaikan mitra kepada salah satu anak. Acarapun berakhir pukul 12.00, dan rombongan PIA Kumetiran kembali ke gereja dengan menggunakan 1 bis. Anak-anak yang ikut acara kali ini berjumlah kurang lebih 35 anak.
-siGal-

Saturday, May 21, 2011

MengenalMU

MengenalMu
Dari yang dulu belum mengenal kini aku mulai mengenalMu...
MengenalMu lewat kasih sayang yang dicurahkan keluargaku...
MengenalMu dari sesamaku...
Bisa mengenalMu juga dari para guru...
Dari para gembala yang Kau utus...
Tetapi lebih dapat mengenalMu semakin lebih dan lebih...
Jika aku dapat melayani, mengasihi sesamaku...
Melayani, mengasihi dengan lebih sungguh...
Pengenalan akan kasihMu yang tiada batasnya...
Akan kasihMu yang tak jemu-jemunya...
Mengangkatku ketika aku jatuh...
Mengangkatku lagi, lagi dan lagi..
Walaupun aku belum sempurna dalam mengenalMu...
Tetapi kuucapkan terima kasih...
Karena sampai hari ini...
Aku boleh mengenal kebaikan dan kemurhanMu di pagi ini.
-siGal-
(21Mei11)

Friday, May 20, 2011

belajar dari butir pasir

Rubrik PIA
Bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian
ayat emas : Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya. Bahkan Ia memberikan kekekalan dalam hati mereka (Pengkothbah 3:11b)
Cerita

Kisah Butir Pasir

Aku adalah butir pasir dari pantai, tentunya adik-adik pernah bermain ke pantai parangtritis bukan? Aku begitu kecil dan halus sekali, sehingga orang yang berjalan tanpa pakai alas kakipun tidak akan merasa sakit. Karena bentukku yang kecil dan halus tak jarang aku dapat diterbangkan oleh angin. Tetapi tahukan adik-adik kisah perjalananku hingga aku menjadi butiran pasir yang halus dan akhirnya bisa sampai di pantai Parangtritis? Teman-teman tahu adanya gunung Merapi yang menjulang tinggi di sebelah utara kota jogja? Ya, ketika gunung merapi lagi batuk-batuk dan mengeluarkan lava pijar, disertai dengan bongkahan batu-batu besar, batu ukuran sedang sampai yang kecil, aku juga ikut terbawa keluar. Waktu aku keluar tentu bentuknya masih tak beraturan, masih kasar dan ukurannyapun masih agak besar. Oleh aliran arus sungai yang jernih akupun mulai terbawa hanyut. Gesekan dengan dasar sungai, benturan sana-sini dengan batuan besar aku alami selama terbawa arus sungai. Terkadang aku juga dihempaskan sampai pinggir sungai. Di pinggir sungai tak jarang aku menunggu lama, bisa berhari-hari, berbulan-bulan dan panas teriknya matahari membuat sebagian badanku menjadi hancur. Sampai akhirnya air hujan dan banjir ikut membawaku kembali hanyut ke sungai dan terus melanjutkan perjalanan. Kusadari badanku semakin lama semakin terkikis oleh perjalanan yang kualami, dan itu aku terima. Air sungai yang awalnya jernih, semakin jauh aku menempuh perjalanan, kulihat air sungainya mulai keruh dan kotor akibat ulah manusia yang membuang sampah sembarangan, banyak limbah yang dibuang langsung ke sungai. Kesegaran dan kejernihan air yang dulunya menemani aku, kini aku ditemani dengan kotoran dan bau-bau yang tidak enak, dan kini badanku juga ikut menjadi kotor. Tak jarang pula aku berhenti lagi di pinggir sungai, melihat sebagian teman-temanku ikut terbawa oleh orang-orang yang lagi mencari pasir di sungai. Selama bertahun-tahun kutempuh perjalanan sampai akhirnya aku tiba di muara sungai dan akhirnya terbawa masuk ke dalam laut. Sudah cukup penderitaanku selama perjalanan yang begitu panjang ini sampai akhirnya aku berada di laut yang bebas. Tetapi ternyata tidak. Sampai di laut aku masih diombang ambingkan oleh ombak. Dihempaskan ke pinggir pantai, lalu ditarik lagi masuk ke dalam ombak begitu terus menerus dan berulang-ulang. Aku seperti dicuci oleh ombak laut, kotoran yang selama ini melekat didiriku semakin lama semakin berkurang dan badanku semakin halus. Ketika air laut surut aku terhempaskan jauh ke daratan pantai. Sinar matahari mengeringkan badanku. Karena bantuan angin pula aku bisa merayap, melocat bahkan bisa melayang menjauh dari laut. Dan sampai akhirnya aku bisa menetap dan berkumpul bersama teman-temanku menjadi bagian dari pasir di pantai Parangtritis.

Wah ternyata kisah perjalan si pasir dari parangtritis sangat panjang dan lama ya. Banyak pengorbanan yang dialami. Benturan, gesekan, panas terik matahari, hempasan gelombang telah dialami, hingga akhirnya bisa menjadi pasir yang sangat halus. Adik-adik yang saat ini masih belajar teruslah belajar yang giat. Pengorbanan yang kita lakukan seperti menahan diri untuk tidak bermain ketika lagi menghadapi ujian sekolah. Rela menahan diri untuk tidak membeli mainan dan jajanan ketika lagi membutuhkan buku-buku pelajaran yang baru, tentu akan kita ingat jika kelak kita menjadi orang yang sukses. Dari banyak hal yang kita lakukan tentunya kita serahkan kepada Tuhan Yesus, biarlah Dia yang menyertai segala hal yang kita alami baik pengalaman suka maupun duka kita juga tetap harus bersyukur atas penyertaanNya selama ini. Berakit-rakit ke hulu berenang-renang ke tepian. Bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian. Sama seperti butiran pasir yang dulunya mengalami penderitaan, pengorbanan hingga akhirnya menjadi butiran pasir yang halus.
-siGal-

Tupai yang rakus

Tupai yang rakus
Di sebuah ladang milik seorang petani yang sangat baik hati, hiduplah segerombolan tupai. Tupai-tupai yang hidup seringkali memakan buah-buah yang telah masak dan hendak dipanen oleh sang petani. Akibatnya sang petani sangat rugi, karena banyak buah tidak dapat dijual karena telah rusak dimakan oleh tupai. Kejadian itu berulang kali terjadi. Hingga akhirnya sang petani tadi bicara dengan sang tupai, hey tupai-tupai kamu boleh saja tinggal di daerah perkebunanku, tapi janganlah memakan buah-buah yang telah masak dan siap aku petik dan kujual. Aku telah rugi, akibat kalian telah memakan dan merusak sebagian buah-buahku. Ada dua pilihan, kamu pergi dari kebunku karena aku akan menyewa penembak jitu untuk memburu kamu, atau aku akan memberi kamu tiap hari makanan tapi kalian jangan sekali-kali mengambil hasil dari kebunku. Lalu para tupai berunding dan memutuskan untuk tetap tinggal di kebun dengan tidak mengambil hasil dari kebun petani. Hari selanjutnya sang petani menepati janjinya dengan memberi makan tupai-tupai itu. Tupai-tupai yang datang dipanggilnya dan diberi jatah 6 buah kenari untuk satu tupai. Para tupaipun antri mendapat giliran pembagian buah kenari. Hingga akhirnya antrian yang terakhir, kebetulan tupai yang terkenal paling rakus yang dapat jatah terakhir. Ya giliranmu ini kamu dapat 6 buah kenari, kata sang petani. Lha kenapa cuma dapat enam, aku kan badanku gemuk bolehkah aku minta 1 lagi? Kata si tupai. Teman-teman kamu yang lainnya semuanya sama mendapat 6 kenari, kenapa kamu tetap ngotot ingin menambah 1 lagi. Pokoknya tidak boleh. Ketika sang petani lagi beres-beres mengumpulkan kenari yang masih sisa, dengan cekatan dan lompatan yang gesit tupai yang rakus tadi mengambil satu kenari lagi dari tangan petani. Lalu lari kabur menjaui dari sang petani tadi.
Adik-adik cerita singkat tupai yang rakus tadi menggambarkan kehidupan kita. Tupai-tupai tadi telah diberi 6 buah kenari dengan cuma-cuma oleh petani. Begitupula dengan kita, kita juga telah diberi enam hari cuma-cuma oleh Tuhan untuk kita gunakan sesuai dengan aktivitas rutin kita seperti berangkat sekolah, belajar bermain, membantu orang tua. Seringkali enam hari yang telah diberikan itu kurang cukup untuk digunakan untuk bermain, nonton televisi. Sehingga jika hari minggu ketika kita diajak oleh orang tua kita untuk pergi ke gereja dan berangkat sekolah minggu seringkali kita beralasan "Ayah, ibu aku masih ingin nonton tv, aku masih ingin bermain ps, ini kan hari libur jadi aku masih ingin bermalas-malasan. Begitupula jika hari minggu ada yang mengajak berangkat sekolah minggu, seringkali kita lebih memilih acara televisi dan jalan-jalan daripada ikut sekolah minggu. Jika kita seperti itu, maka tanpa sadar adik-adik akan seperti tupai yang rakus tadi. Masih mau meminta 1 kenari lagi dari petani. Kita masih mau merampas 1 hari lagi hari minggu yang seharusnya hari buat Tuhan. Tiap minggu kita sediakan waktu berangkat ke gereja untuk mengucap syukur atas berkat yang telah diterima dan apa yang telah terjadi baik suka dan duka 6 hari yang lalu dan memohon kekuatan untuk menjalani hari-hari berikutnya. Dan jangan lupa menyediakan waktu untuk bertemu dengan teman-teman dalam acara sekolah minggu. Jangan sampai hari minggu yang seharusnya hari buat Tuhan juga kita rampas untuk kegiatan bermain saja. Ingat ya adik-adik, jangan sampai kita menjadi sama seperti tupai yang rakus.
-siGal-

Berdoa

Rubrik PIA
Berdoa
"Bersukacitalah dalam pengharapan, sabarlah dalam kesesakan, dan bertekunlah dalam doa!"(Rom 12:12)
cerita
Alkisah di sebuah daerah yang terkenal sibuk orangnya, datanglah seorang kakek tua. Kakek itu merasa heran dengan daerah itu, orang lalu lalang tanpa ada satu orangpun yang menyapa dia. Hingga akhirnya sang kakek mencoba mendatangi satu rumah yang kebetulan masih ada orang untuk minta air putih. Ketika sang kakek diberi air minum, tidak lupa sang kakek berdoa. Perilaku kakek yang berdoa itu membikin keluarga yang memberi air sang kakek merasa terheran. Setelah meminum air dan mengucapkan terima kasih si kakek bertanya :"Apakah kalian sering berdoa dan melakukan doa bersama?" "Maaf, kek" jawab sang kepala keluarga, "kami tidak punya waktu untuk itu" Kakek itu bertanya lagi,"Seandainya kalian tahu bahwa esok hari tidak ada air minum sama sekali buat diminum, apakah kalian juga tidak akan berdoa bersama memohon adanya air minum?" "Oh tentu kami akan berdoa, " jawab sang ayah. Tanya si kakek berlanjut,"Seandainya kamu tahu bahwa ketika kamu tidak berdoa bersama, salah satu anakmu akan terluka dalam kecelakaan, apakah kamu tidak akan berdoa bersama?" "Tentu kami akan berdoa," jawab sang ibu. Seandainya setiap hari kamu lupa berdoa, dan kamu dihukum bayar satu juta rupiah, apakah kamu akan berdoa?" tentu kek, kami akan berdoa bersama. Tapi maaf apa maksud pertanyaan-pertanyaan tadi?" bapak itu balik bertanya. "Begini pak, saya pikir masalah keluarga anda buka soal waktu, buktinya anda selalu punya waktu untuk berdoa. Masalahnya anda tidak menganggap doa keluarga itu penting, sepenting membayar denda senilai satu juta rupiah tadi atau menjaga agar anak-anak dalam keadaan selamat.
Adik-adik hayo siapa yang tiap hari selalu ada doa bersama dengn keluarga, selalu menyediakan waktu rutin buat doa pagi atau doa malam? Doa seharusnya menjadi kunci pembuka di pagi hari dan gembok pelindung di malam hari. Doa memberi kekuatan kepada orang lemah, membuat orang tidak percaya menjadi percaya, dan memberi keberanian kepada orang yang takut. Disaat gembira, doa itu akan melipagandakan kegembiraan kita, dan disaat kita sedih doa dapat memberi penghiburan kepada kita. Bila akhir-akhir ini kita tidak atau jarang berdoa, sekaranglah waktunya untuk memulai berbenah kembali. ayo selamat berdoa...
-si gal-

mbah maridjan

Indah bagi mereka
Seorang prajurit yang mati di medan pertempuran, seorang pilot meninggal ketika menjalankan tugas. Seorang peneliti meninggal disaat menjalankan tugas penelitian. Dan seorang tokoh juru kunci gunung merapi akhirnya mati di gunung merapi. Bagi mereka yang mengalami mungkin tidak pernah terbesit dipikiran mereka kapan waktunya akan datang. Tetapi bagi mereka yang menjalani bagi saya sungguh mulia dan membanggakan dengan mati ketika menjalankan tugas yang diemban. Kesetian dalam tugas yang diemban, akan menjadikan spirit bagi orang yang mengenalnya. Mungkin banyak orang yang merasa kasihan, dan tak jarang malah banyak yang menyalahkan. Tetapi bagi mereka yang menekuni, mengulatinya akan menjadi sesuatu yang sulit diterima oleh akal manusia, dengan keputusan yang diambil. Selamat jalan mbah...beristirahatlah dalam damai Tuhan....
Malam yg dingin dan mencekam di hargobinangun pkl 07.15 27 okt 2010 -sigal-

catatan di akhir april

Pembawa Harapan Bagi Sesama

Sebuah pengalaman yang sangat berharga yang hari ini aku peroleh. Hari ini tanggal 30 April, aku mengikuti perayaan paskah bersama dengan teman-teman yang berada di Rutan Wirogunan. Baru tahu kali ini kalau Rutan dan lembaga Pemasyarakatan itu ternyata berbeda. Kalau rutan (rumah tahanan) diperuntukan bagi teman-teman yang sedang menunggu keputusan di pengadilan, sedangkan kalau LP itu teman-teman yang sedang menjalani vonis hukuman. Proses masuknya kedalam rutanpun begitu ketat, pakai acara di cap di tangan, pakai tanda pita dan co card. Rencana aku mau foto-fotopun terpaksa gagal karena hape, kamera, tas dan jaket di larang masuk. Setelah proses registrasi selesai kita di perkenankan masuk. Pemandangan yang baru aku lihat langsung pagar-pagar tinggi dengan kawat berduri menjulang memisahkan bagian satu dengan bagian yang lain. Kita pun langsung masuk ke dalam sebuah aula kecil tempat dilangsungkan ekaristi paskah. Di dalam sana sudah menanti teman-teman rutan yang sudah menanti, ada yang tua,muda dan kulihat ada 3 orang wanita. Pandanganku langsung tertuju pada orang yang umurnya sebaya denganku. Akupun menjadi terharu, di usia sepertiku ini dia harus menjalani kehidupan yang mungkin saja tidak pernah terbersit dipikirannya berada di rutan. Pandangan matanya seakan sayu. Mungkin karena capek bolak-balik menjalani proses persidangan atau lagi menunggu vonis yang akan dijatuhkan. Perayaan ekaristipun dimulai. Kulihat pandangannya juga masih sayu. Ketika liturgi sabda kulihat dia membuka kitab suci dan membuka sesuai dgn apa yang dibacakan. Tidak ada gerakan tangan atau sikap liturgi yang biasa dilakukan oleh orang-orang. Dalam homilinya Rm.Hari Kustono, Pr mengatakan bahwa setiap pengalaman baik atau buruk, menyenangkan atau tidak tetap di dalamnya ada sebuah rencanaNYA yang mulia bagi kita. Kehadiran satu sama lain, saling mendoakan, saling meneguhkan merupakan hal yang bisa kita berikan bagi teman-teman kita yang saat ini sedang diliputi rasa cemas. Selesai perayaan ekaristi kulihat dia mulai tersenyum dan terlibat obrolan dgn orang tua yang ada disampingnya. Aku kemudian bertanya dalam hati, ya pengharapan. Jangan sampai harapan seseorang pupus atau tak mempunyai harapan karena aku, kamu dan kita tidak pernah sama sekali peduli dgn lingkungan sekitar. Kita sudah enjoy dgn lingkungan kita sendiri, dan tak mau peduli lg dengan lingkungan lain. Di luar sana masih banyak orang2 yang membutuhkan kehadiran dan sapaan kita.
-si Gal-

rubrik pia mei

Rubrik PIA
Cinta Kasih
Seorang putri raja dari keluarga kerajaan ingin mengetahui rasa cinta rakyatnya kepada orang-orang yang lagi membutuhkan pertolongan. Selama ini di dalam kerajaan sang putri tidak mengetahui banyak tentang apa yang terjadi di luar sana. Lalu sang putri mencoba keluar dari istana. Tetapi ia keluar bukan sebagai seorang putri kerajaan. Ia keluar dengan menyamar sebagai pengemis. Dan pada suatu hari yang sangat dingin, dia mengenakan pakaian compang-camping, dengan memakai topi usang dan membawa sebuah keranjang. Dia ingin menguji cinta kasih dari para tetangganya. Di beberapa rumah dia diberikan barang-barang yang memang sama sekali tidak bernilai, di rumah lain dia dihujani dengan kata-kata kasar. Hanya disuatu tempat, dia diterima dengan ramah, dan itu adalah gubuk seorang kakek yang miskin. Dia dibawa ke dalam ruang yang hangat seadanya dengan diberi minuman dan makanan panas. Sang kakek memberikan pelayanan kepada tamunya seperti seorang anak sendiri.
Pada hari berikutnya, semua orang yang pernah dikunjungi wanita itu diundang masuk ke dalam puri di mana mereka dihantar oleh para pelayan menuju ruang makan yang besar. Ada kartu nama untuk para undangan. Di tempat duduk masing-masing undangan diletakan barang yang sama yang telah diberikan kepada sang putri raja waktu menyamar. Hanya kakek tua yang dilayani dengan piring penuh makanan yang lezat.
Kemudian sang putri raja masuk ke ruang makan dan menjelaskan kepada para tamunya, "Kemarin untuk menguji cintamu dan kepedulianmu, saya sengaja memasuki daerah di sekitar kerajaan ini. Saya berjalan-jalan dan masuk ke rumah rumah kalian semua. Dan hari ini saya akan melayani anda semua yang hadir disini dengan barang yang sama dengan yang telah kalian berikan kemarin padaku. Ada yang mendapatkan 2 koin saja, ada yg mendapatkan umpatan-umpatan saja, ada juga yang mendapatkan nasi dan lauk yang telah basi. Dan akhirnya rakyatnya minta maaf kepada sang putri, dan berjanji tidak akan membeda-bedakan, jika akan menolong orang yang lagi membutuhkan pertolongan.
Adik-adik cerita tadi mengingatkan kita, bahwa jika ada orang yang lagi membutuhkan pertolongan hendaknya kita bantu menurut kemampuan dan keadaan kita. Walaupun kita tidak punya apa-apa, tapi kita masih punya senyum untuk kita berikan kepada orang-orang yang datang kepada kita. Lewat cara sederhana yaitu senyum dan doa kita, tentu akan memberikan arti kepada mereka yang datang kepada kita. Semoga kehadiran kita bisa berguna dan memberikan arti kepada keluarga, teman-teman dan sahabat kita.
-si gal-

berkurban itu indah

Rubrik PIA

Berkurban Itu Indah

Musim Hujan sudah berlangsung hampis satu tahun ini, sehingga dimana-mana pepohonan tampak menjadi hijau. Seekor ulat menyeruak diantara daun-daun hijau yang bergoyang-goyang diterpa angin. “Apa kabar daun hijau!!!” katanya. Tersentak daun hijau menoleh kearah suara yang datang. “Oo, kamu ulat, badanmu kelihatan kecil dan kurus kenapa?” tanya daun hijau. “Aku hampir tidak mendapatkan dedauanan untuk makananku. Semua daun di pepohonan yang aku datangi mereka tidak mau sedikitpun memberi makan ke aku. Mereka tidak merelakan jika daunnya menjadi berlubang gara-gara aku makan. Karena daun yang berlubang kecil akan mengurangi keanggunan dan keelokan mereka. Aku sudah berjalan jauh dari pohon satu ke pohon lainnya, tetapi tetap saja mereka tidak memberiku makanan. Kalau dilihat satu pohon saja akan memiliki puluhan bahkan ratusan jumlah daun, aku minta bagian kecil saja, ya tidak sampai menghabiskan satu tangkai daun saja itupun tidak ada yang mau. Bisakah engkau membantuku sobat?” kata ulat kecil “Tentu…tentu… mendekatlah kemari.” Daun hijau berpikir jika aku memberikan sedikit dari tubuhku ini untuk makanan si ulat aku akan tetap saja hijau, hanya saja aku akan kelihatan berlubang disana-sini, tapi tak apalah.
Perlahan-lahan ulat mengerakan tubuhnya menuju daun hijau. Setelah makan dengan kenyang, ulat berterima kasih dengan daun hijau yang telah merelakan bagian tubuhnya menjadi makanan si ulat. Ketika ulat mengucapkan terima kasih kepada daun hijau, ada rasa puas di dalam diri daun hijau. Sekalipun tubuhnya kini berlubang disana-sini, namun ia bahagia bisa berkurban bagi ulat kecil yang lapar. Tak berapa lama setelah ulat kecil itu pergi, daun-daun lain mengejek perbuatan si daun itu. “hei lihatlah sekarang tibuhmu jadi berlubang-lubang, kamu sudah tidak pantas lagi bergabung bersama kami. Orang yang memandang mungkin akan mencela pohon ini. Sudah tidak ada keindahan di pohon ini gara-gara kamu.” Si daun pemberi makan ulat hanya terdiam saja. Hari demi hari celaan dan makian selalu diterima si daun, tetapi sidaun hanya diam dan tidak membalas celaan mereka.
Tak lama berselang ketika musim panas datang, daun-daun yang dulunya hijau kini berubah warna menjadi kuning lalu menjadi kering dan akhirnya berguguran jatuh ditanah. Begitupula dengan daun pemberi makan ulat tadi juga akhirnya jatuh di tanah bersama dengan daun-dauan yang suka mencela. Mereka berserakan di tanah, lalu orang menyapunya dan membakarnya.

Adik-adik cerita tentang daun yang murah hati tadi mengingatkan kita untuk selalu berbagi dengan sesama yang membutuhkan..daun hijau yang baik mewakili orang-orang yang masih mempunyai “hati” bagi sesaamanya. Yang tidak menutup mata ketika melihat sesamanya yang dalam kesulitan, yang tidak membelakangi dan seolah-olah tidak mendengar ketika sesamanya minta tolong . Ia rela melakukan sesuatu untuk kepentingan orang lain dan sejenak mengabaikan kepentingan diri sendiri. Merelakan kesenangan dan kepentingan diri sendiri bagi sesama memang tidak mudah. Ketika kita berkurban, diri kita sendiri menjadi seperti daun berlubang, namun itu sebenarnya tidak mempengaruhi hidup kita, kita akan tetap hijau. Tuhan akan tetap memberkati dan memelihara kita. Bagi daun hijau, berkurban merupakan merupakan satu hal yang mengesankan dan terasa indah. Dia bahagia bisa melihat ulat tersenyum karena pengorbanan yang ia lakukan. Daun hijau yang baik hati melakukan karena ia menyadari bahwa ia tidak selamanya tinggal sebagai daun hijau. Suatu hari ia akan kering dan jatuh di tanah. Demikian hidup kita, hidup ini hanya sementara, kemudian kita akan mati. Itu sebabnya isilah hidup ini dengan perbuatan-perbuatan yang baik. Tuhan Yesus sendiri sampai mengorbankan hidupnya di kayu salib karena cintanya terhadap kita. Semoga Paskah tahun ini kita diingatkan kembali akan semangat berkurban dan melayani bagi sesame kita. Selamat paskah adik-adik…
-si gal-

Coretan Singkat

Coretan singkat
Dengan segala kelemahanku, kekuranganku, dan keterbatasanku biarlah Tuhan sendiri yang akan menyempurnakanya. Ketika aku masih diberi kesempatan untuk hidup semuanya kupersembahkan bagi Tuhan. Karena aku sadar bahwa Tuhan telah menyelamatkanku dan mengangkatku. Hidup baru yang kujalani sebisa mungkin dapat membahagiakan keluarga dan sesamaku. -siGal-

mencari-cari kesalahan

Mencari-cari kesalahan
Ayat emas Matius 7:3 Mengapakah engkau melihat selumbar di mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu tidak engkau ketahui ?
Cerita
Selembar Kertas Putih
Ada seorang anak yang sukanya mencari-cari kesalahan orang lain. Dia tidak mau disalahkan, maunya dia yang paling benar sendiri.
Dengan cekatan, ia akan mampu menunjukkan kesalahan teman-teman dan orangtuanya. Bahkan jika sesuatu terjadi pada dirinya, maka ia menyalahkan teman dan orangtuanya. "Aku jatuh karena Ayah meletakkan ember di sembarang tempat," kata anak tersebut, kepada ayahnya saat ia terjatuh di kamar mandi. Kejadian lainnya ketika lantai rumahnya sedang di pel, anak tersebut terjatuh gara-gara terpeleset lantai yang masih licin, dengan cekatan pula si anak memarahi ayahnya yang lagi mengepel lantai.
Pada suatu hari, anak itu berjalan-jalan di pinggir hutan. Matanya tertuju pada sekelompok lebah yang mengerumuni sarangnya. "Wah, madu lebah itu pasti sangat manis. Aku akan mengambilnya. Aku akan mengusir lebah-lebah itu !" Ia pun mengambil sebuah galah dan menyodok sarang lebah itu dengan keras. Ribuan lebah merasa terusik dan menyerang anak itu. Melihat binatangkecil yang begitu banyak, anak itu lari terbirit-birit. Lebah-lebah itu tidak membiarkan musuhnya pergi begitu saja. Satu ...dua ...tiga, lebah-lebah menghajar dengan sengatan. "Aduh .....tolong ..... !" Byur !! Anak itu menceburkan dirinya ke sungai. Tak lama kemudian, lebah-lebah itu pergi meninggalkan anak itu yang kesakitan.
"Mengapa Ayah tidak menolongku ? Jika Ayah sayang padaku, pasti sudah berusaha menyelamatkanku. Semua ini salah Ayah !" Ayahnya diam sejenak, lalu mengambil selembar kertas putih.
"Anakku, apa yang kamu lihat dari kertas ini? Itu hanya kertas putih, tidak ada gambarnya," jawab anak itu. Kemudian, ayahnya mentoreh di kertas putih dengan sebuah titik berwarna hitam.
"Apa yang kamu lihat dari kertas putih ini?
Ada gambar titik hitam di kertas putih itu !
Anakku, mengapa kamu hanya rmelihat satu titik hitam pada kertas putih ini? Padahal sebagian besar kertas ini berwarna putih. Betapa mudahnya kamu melihat kesalahan Ayah ! Padahal masih banyak hal baik yang telah Ayah lakukan padamu."
Ayahnya berjalan pergi meninggalkan anaknya yang duduk termenung.
Adik-adik, mari kita belajar mengoreksi diri sendiri sebelum kita menyalahkan orang lain. Jangan hanya melihat sisi buruk suatu masalah, kejadian atau orang-orang yang mungkin tidak berkenan di hati kita, tetapi kita perlu juga melihat sisi baiknya. Sangat banyak dan mungkin tak terhitung perbuatan baik yang telah dilakukan oleh ayah,ibu,kakak,adik,serta teman dan saudara kita terhadap kita. Jangan sampai gara-gara kesalahan kita, atau kelalain kecil mereka, kita langsung marah-marah dan langsung membenci mereka.

kuatnya sebongkah harapan

Rubrik PIA

Bacaan Mazmur 23 : 4
“Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku; gadaMu dan tongkat-Mu, itulah yang menghibur aku.”

Kuatnya Sebongkah Harapan

Dahulu kala di sebuah kota hiduplah sepasang suami istri yang bahagia. Mereka terkenal sebagai pengusaha yang cukup sukses. Banyak sekali pabrik yang mereka miliki. Ketika sang suami jatuh sakit parah dan memerlukan pengobatan yang mahal, satu per satu pabrik miliknya dijual. Harta mereka terkuras untuk membiayai berbagai pengobatan. Rumah yang di kota pun dijual, hingga akhirnya harus berpindah ke pinggiran kota. Mereka membuka rumah makan sederhana untuk menyambung hidup. Berbagai pengorbanan yang dilakukan oleh keluarga itu tetap saja tidak dapat menolong sang suami. Hingga akhirnya sang suami pun tiada.
Beberapa tahun kemudian, satu-satunya rumah makan yang mereka punyai itu harus berganti menjadi warung makan yang lebih kecil di sebelah pasar. Setelah lama tak terdengar kabarnya, kini setiap malam tampak sang istri dibantu anak dan menantunya menggelar tikar dan berjualan di alun-alun kota. Cucunya pun sudah bertambah. Orang-orang masih mengenal masa lalunya yang berkelimpahan. Namun ia tak kehilangan senyumnya yang tegar saat meladeni para pembeli. "Wah ibu, bagaimana kau sedemikian kuat?" tanya mereka suatu kali. "Harapan nak! Jangan kehilangan harapan. Bukankah seorang guru dunia pernah berkata, karena harapanlah seorang ibu menyusui anaknya. Karena harapanlah kita menanam pohon meski kita tahu kita takkan sempat memetik buahnya yang ranum. Sekali kau kehilangan harapan, kau kehilangan seluruh kekuatanmu untuk menghadapi dunia.”

Adik-adik... cerita pendek diatas mengingatkan kita bahwa baik dalam keadaan susah maupun senang, kita tetap memegang harapan akan kasih Tuhan yang menyertai kita. Jangan sampai ketika situasi sedih, kita malah malas berdoa dan menjauh dari-Nya. Ingatlah bahwa kita mempunyai Gembala yang baik yaitu Yesus sendiri. Ia senantiasa mendampingi kita berjalan dalam lembah kekelaman, dan menuntun ke jalan yang benar. Ia membimbing ke air yang tenang, dan membaringkan kita di padang yang berumput hijau. Teruslah mempunyai harapan yang besar....! (siGal)

Dibentuk olehNYA

Waktu dibentuk Tuhan
Rencana Tuhan terkadang jauh bertolak belakang dengan keinginan kita. Keinginan yang selalu hidup nyaman, sukses dan sesuai dengan harapan, menjadi luluh dan tak berbekas ketika Tuhan berkehendak lain. Walaupun semuanya tidak sesuai dengan harapan, tapi rencananya aku yakin tentu akan jauh berguna dalam aku menjalani hidup di dunia. Ya aku merasa dibentuk oleh Tuhan. Dibentuk oleh Tuhan begitu menyakitkan, tidak tau berapa kali air mataku menangis, bahkan sampai aku pernah berkata ingin mati. Rasa malu, capek, putus asa sering mendera. Sampai tidak tahu kapan aku bisa bangkit berdiri lagi. Dan satu yang kutahu pasti berkat doa kakaku, aku dapat berdiri tegak lagi dan mencoba menghadapi hidup. Lewat ekaristi aku selalu dikuatkan. Ditengah aku mulai bangkit, Tuhan memberi lagi pelajaran berharga bagiku. Ya, Tuhan memanggil bapaku secara tiba-tiba ditengah keluargaku. Kepergian yang mendadak, membuat aku rapuh lagi. Aku dibentuk lagi untuk tetap kuat, ikhlas bahwa bapak lebih berbahagia di surga. Perasaan kehilangan cita-cita, orang-orang yang dicintai, sungguh membuat aku jatuh. Entah kenapa sampai saat ini aku masih dapat berdiri dan menjalani hidup. Dan aku percaya berkat penyertaaNYA aku dapat kuat menjalani segala apa yg aku alami. Terima kasihTuhan karena Engkau telah menginjinkan aku,Engkau bentuk.
-siGAL(280211)

Hidup Baru

Hidup Baru
Hari ini akan kucoba, ya akan kucoba melepaskan, meninggalkan dan membuangnya jauh-jauh dari pikiranku. Akan kumulai sebuah hari baru. Hari yang penuh suka cita, sebab aku yakin Engkau selalu menyertaiku. Tidak akan mengerutu, tidak akan mencaci, tidak akan menganggap diri sendiri yg penting, melainkan meleburkan diri bahwa aku adalah seorang yang hina dina. Segala kegagalanku, segala kebodohanku, biarlah kubawa dalam kurban ekaristi sore ini. Dan segala kejadian buruk masa lalu akan aku lupakan. Akan kucoba menghadapi segala persoalan, permasalahan yang akan kualami dengan penyerahan seutuhnya kepadaMU. Dengan menimba kekuatan lewat ekaristi, aku akan tetap kuat dalam tugas perutusanku dan pelayananku. Jikalau pelayananku mulai kendor, letih tolong ingatkanku Tuhan. Lewat adorasi, aku akan membiarkan suaraMU tuk mengema lembut dalam hatiku. Ketenangan, kedamaian senantiasa aku dapati ketika aku beradorasi. Dan satu hal yang membuat aku coba kuat dan bertahan yaitu janjiNYA yang benar-benar nyata dalam hidupku, Ia akan menyertai kita sampai akhir jaman. Penyertaannya tidak main-main, tetapi lewat pribadi yang sunggu hadir dan nyata lewat ekaristi, dan pribadiNYA secara nyata menemani kita baik susah senang dalam sakramen mahakudus dalam ruang adorasi.
-si gal (hari raya st.polikarpus 23 feb)

sambel sop

Fokus pada suatu hal, bukan berarti melupakan apa yang ada di sekitarnya.

Pagi ini, di rumah masak sop. Sop itu paling enak dimakan dengan sambel plus tempe goreng. Palagi jika sopnya panas akan lebih enak lagi. Ketika aku tadi bangun pagi, semuanya udah pada pergi. Lalu sesaat sebelum aku makan, datang budheku minta sop, dan di a mencari sambel. Lalu dia berkata eh tidak ada sambel tho? Sambel yg kemarin habis? Lalu aku jawab, wah aku tidak tahu, soalnya aku juga belum makan. Lalu datang keponakanku yg mau berangkat sekolah, ia jg mencari-cari sambel juga tida ketemu. Lalu aku juga makan, kubuka lemari seperti kedua orang sebelumnya. Emg tidak ada sambel, yang ada hanyalah tempe goreng. Akupun lalu makan dan berpikir sama dengan kedua orang tadi bahwa sambelnya mungkin dah habis atau pagi itu memang belum nyambel. Selesai makan, aku ambil gelas dan tak sengaja aku melihat sambel, yang letaknya dekat tempat menaruh gelas, lebih tepatnya tepat dibawah kita tadi mencari-cari sambel dan tempe yaitu dibawah rak makan. Wah-wah ternyata aku tadi hanya percaya dengan apa yang dikatakan oleh dua orang sebelumnya. Dan apa yang mereka lakukan aku tiru sepenuhnya dengan membuka lemari tempat biasa menyimpan makanan tanpa melihat-lihat sekitarnya. Dan mempercayai bahwa memang tidak ada sambel. Eh padahal tempat sambelnya, jika dirasa-rasa juga agak besar, jadi mudah terlihat. Tapi gara-gara hanya terfokus pada satu tempat dan tidak peduli dengan sekitarnya aku melewatkan makan pagi tadi tanpa sambel.:)

Total Pageviews

Persembahan Hati

Mentega dengan Roti